Songs in the Night (Part 3 of 3)

Sudah 1 Minggu lamanya, Sejak kejadian itu Miyoung dan Hankyung tak pernah bertemu sekalipun. Hankyung yang merasa bersalah dengan apa yang baru saja terjadi saat itu memutuskan untuk mengunjunginya.

“Kau…” Ujar Zhoumi saat melihat orang yang datang adalah Hankyung.

“Zhoumi, Bisakah aku bertemu dengan Miyoung? Aku ingin melihat kondisinya sekarang.” Ujar Hankyung ramah.

Zhoumi terdiam dan akhirnya ia membuka pintu dengan lebar mempersilahkan Hankyung untuk masuk ke dalam rumahnya. “Masuklah… Dia sedang berbaring di kamarnya…” Ujar Zhoumi.

“Terima Kasih…” Ujar Hankyung dan ia mengikuti langkah Zhoumi ke arah kamarnya Miyoung. Nampak lampu kamar Miyoung yang padam dan pintunya tertutup rapat. Padahal sekarang sudah menjelang malam.

“Kamarnya tidak di kunci, Kau masuk saja! Jika perlu kau nyalakan saja lampunya…” Ujar Zhoumi seraya pergi meninggalkan Hankyung, Membiarkan dirinya menemui Miyoung dan berbicara berdua saja.

Hankyung masuk ke dalam kamar Miyoung, Ia menutup kembali pintunya rapat-rapat dan hanya sebuah lampu duduk kecil yang menerangi ruangan ini. “Miyoung…” Panggil Hankyung pelan takut jika Miyoung sedang tertidur.

“Pergilah!” Terdengar suara Miyoung dadri balik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. “Jangan temui aku!” Ujarnya lagi.

Hankyung mendekati Miyoung dan kini ia berdiri di samping ranjangnya. “Maaf… Maafkan aku karena aku yang telah membuatmu seperti ini…” Ujar Hankyung merasa sangat bersalah.

“Ini bukan salahmu! Sekarang lebih baik kau pergi saja!” Jawab Miyoung yang masih tak ingin membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.

“Aku sudah tau semuanya, Miyoung. Kenapa kau tidak mengatakannya padaku dari awal? Jika aku tau kondisimu yang sebenarnya, Aku takkan mungkin mengajakmu untuk melihat matahari terbit…” Ujar Hankyung menyesal.

“Tidak ada gunanya aku memberitahumu, Itu hanya akan membuatmu mengetahui jika aku bukanlah seorang gadis normal…” Ujar Miyoung pelan tapi tanpa Hnakyung sadari ia mulai meneteskan air mata.

“Memangnya kenapa? Aku menyukaimu apa adanya, Aku senang bisa berkenalan denganmu. Aku sama sekali tidak mempedulikan penyakitmu itu! Bahkan aku senang bisa berkenalan denganmu dan berteman denganmu atau lebih tepatnya sekarang aku mulai mencintaimu…” Ujar Hankyung panjang lebar.

Miyoung yang mendengar itu tersontak kaget. Ia tetap terdiam tanpa menjawab ucapan Hankyung. “Maaf jika aku lancang mengatakan ini semua padamu. Tapi aku hanya ingin kau mengetahuinya, Sekali lagi maaf karena aku telah membuatmu seperti ini…” Ujar Hankyung pelan. “Aku pamit pulang…” Ujar Hankyung lagi. Tapi di saat ia akan melangkah pergi Miyoung langsung memegang tangannya dan Hankyung pun segera menengok padanya.

“Benarkah? Benarkah yang kau katakana itu? Benarkah kau menyukaiku apa adanya?” Ujar Miyoung seraya memperlihatkan wajahnya dan menyingkirkan selimut dari wajahnya.

“Apa hanya karena kau adalah seorang pengidap Xeroderma Pigmentosum. Aku harus menjauhimu dan tidak menyukaimu? Miyoung, Aku bukanlah orang seperti itu…” Jawab Hankyung serius.

Dengan segera Miyoung langsung bangkit dari tidurnya dan merangkul pinggang Hankyung erat. Nampak bercak-bercak hitam serta bercak kemerahan yang terlihat seperti luka bakar pada kedua lengan Miyoung. “Aku mohon jangan jauhi aku…” Ujar Miyoung dengan suara parau.

Hankyung melepaskan kedua tangan Miyoung yang melingkar di pinggangnya. Kemudian ia duduk di hadapannya dan menatap matanya dengan lembut. “Aku akan selalu berada di sisimu. Aku berjanji takkan pernah meninggalkanmu…” Ujar Hankyung lembut dan tersenyum manis padanya.

Miyoung mulai meneteskan air matanya dan Hankyung pun segera memeluknya. Ia membelai lembut rambut Miyoung yang tergerai panjang, Dan kini ia mengecup kening Miyoung dengan perlahan. “Saranghae…” Ujar Hankyung sedikit berbisik.

##########

1 Minggu Kemudian…

“Oppa, Bagaimana penampilanku? Apa sudah rapih?” Ujar Miyoung terlihat ceria kembali seperti saat itu.

Zhoumi memperhatikan adiknya dari atas sampai ke ujung kakinya. Zhoumi menganggukan kepalanya dan menunjukkan 2 jempol pada adiknya, “Kau sangat cantik!” Ujar Zhoumi sembari tersenyum padanya.

“Benarkah?” Miyoung terlihat semakin senang. Ia bergegas naik ke lantai atas kamarnya tapi baru beberapa langkah tiba-tiba Miyoung kehilangan keseimbangan tubuhnya dan terjatuh. “Aww…” Ringisnya kesakitan.

Zhoumi segera menghampirinya dan membantunya berdiri. “Kau tidak apa-apa?” Tanya Zhoumi cemas.

“Aku tidak apa-apa. Mungkin tadi aku terlalu teledor.. Mangkannya aku terjatuh…” Ujar Miyoung sembari tertawa masam dan mencoba untuk berjalan dengan kaki yang masih terasa sakit.

Zhoumi memperhatikan adiknya itu., Ia teringat akan perkataan Dokter yang memeriksa keadaan Miyoung saat mendapatkan bercak-bercak di tangannya itu pada minggu lalu.

<Flash Back Start>

“Dokter, Bagaimana keadaan adik saya?” Tanya Zhoumi saat sedang berduaan saja bersama seorang Dokter di ruangannya.

“Sepertinya, Kestabilan tubuh adik anda semakin memburuk. Di tambah lagi penyakitnya ini sudah mulai menyerang bagian saraf-saraf tubuhnya dan bisa saja menyebabkan adik anda mengalami kelumpuhan…” Jelas Dokter itu dengan serius.

Zhoumi terdiam merenungi nasib adiknya karena kesehatannya yang semakin memburuk. “Apakah ia masih bertahan? Dapatkah ia tetap menjadi dirinya yang sekarang?” Ujar Zhoumi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Mungkin ia akan mulai kehilangan keseimbangan tubuhnya, dan bahkan hidupnya bisa saja takkan lama lagi… Anda harus tabah menghadapi ini semua.” Ujar Dokter dengan serius.

Zhoumi kembali terdiam, Ia mulai menundukkan kepalanya dan meneteskan air mata yang sudah tak mampu ia bendung lagi.

<Flash Back End>

“Apakah ini yang di maksud dengan perkataan Dokter itu? Tidak biasanya Miyoung terjatuh. Apa benar hidupnya takkan lama lagi?” Gumam Zhoumi dalam batinnya dan tanpa terasa ia mulai meneteskan air matanya.

##########

“Kenapa dengan kakimu?” Tanya Hankyung saat melihat kaki kanan Miyoung yang telihat memerah seperti habis terjatuh.

“Tadi aku terjatuh di tangga karena keteledoranku…” Jawab Miyoung sembari terkekeh kecil.

“Apa tidak apa-apa?” Tanya Hankyung cemas.

Miyoung menggeleng sembari tersenyum. “Tidak apa-apa… Aku kan kuat…” Canda Miyoung sembari menjulurkan lidahnya sedikit.

Hankyung tersenyum saat melihat kelakuan Miyoung. Ia membelai rambut Miyoung lembut. “Kau mau coklat panas?” Ujar Hankyung karena merasa jika cuaca sekarang begitu dingin.

“Boleh…” Jawab Miyoung singkat. Hankyung pun masuk ke dalam rumahnya dan tak berapa lama dia kembali sembari membawa 2 gelas yang berisikan coklat panas.

“Ini…” Hankyung menyodorkan segelas coklat panas padanya akan tetapi pada saat Miyoung hendak mengambilnya, Tiba-tiba saja gelas itu terjatuh dari tangannya.

“Ah.. Maaf!” Ujar Miyoung dan dengan segera memungut sepihan-sepihan gelas itu. “Aku tidak sengaja menjatuhkannya, Tanganku seakan kehilangan kontrol, Maaf…” Ujar Miyoung merasa tidak enak.

“Tidak apa-apa. Sudah biar aku saja yang bersihkan…” Ujar Hankyung lembut dan menggantikan Miyoung membersihkan serpihan kaca itu.

“Aku benar-benar merasa tidak enak, Maafkan aku…” Ujar Miyoung masih merasa bersalah.

Hankyung tersenyum padanya dan menatapnya dengan lembut. “Kau ini tidak perlu merasa tidak enak seperti itu.. Aku tidak akan marah padamu, Kau tenang saja…” Ujar Hankyung sembari bangkit dan membuang serpihan kaca itu ke tong sampah.

Miyoung tersenyum padanya, Tapi dalam hatinya ia terlihat resah. “Kenapa dengan tubuhku ini? Pertama aku terjatuh tiba-tiba dan sekarang tanganku seakan sulit di gerakkan. Apa yang terjadi pada tubuhku ini? Apa penyakitku ini semakin memburuk?” Gumamnya dalam batin.

##########

Miyoung kembali ke rumahnya dan segera menghampiri Zhoumi yang terduduk di ruang tengah. “Oppa, Apakah aku boleh tanya sesuatu?” Tanya Miyoung pelan dan duduk di sampingnya.

“Apa?” Tanya Zhoumi penasaran.

“Sebenarnya apa yang di katakan Dokter saat itu? Dia tidak benar-benar bilang jika aku ini tidak apa-apa kan? Kau tidak akan berbohong padaku kan, Oppa?” Tanya Miyoung penasaran.

Zhoumi tersontak kaget saat mendengarnya. Tapi kemudian ia menghela nafas seraya menatap Miyoung, “Miyoung, Kestabilan tubuhmu semakin memburuk. Penyakitmu sudah mulai menyerang saraf-saraf dan pergerakan ototmu.. Dan mungkin kau akan mengalami kelumpuhan…” Jelas Zhoumi dengan serius.

Tak lama dari itu air mata Miyoung tumpah begitu saja. Zhoumi segera memeluknya dan menepuk punggungnya dengan perlahan. “Maafkan Oppamu ini karena tidak mengatakan hal ini dari awal, Aku hanya takut kau akan menjadi semakin putus asa…” Ujar Zhoumi merasa sangat bersalah.

##########

Zhoumi datang ke rumah Hankyung dengan wajah yang terlihat lusuh. “Zhoumi, Ada apa?” Tanya Hankyung saat membuka pintu dan melihat Zhoumi.

“Hankyung, Sebenarnya kedatanganku ke sini. Ada sesuatu yang ingin aku minta darimu. Bolehkah?” Ujar Zhoumi seakan sudah putus asa.

“Kau ini seperti pada orang lain saja. Tentu saja, Memangnya apa?” Jawab Hankyung dan bertanya balik.

“Aku mohon, Temani Miyoung sampai akhir hayatnya.. Aku mohon kau tetap berada di sampingnya…” Ujar Zhoumi dengan serius.

“Kau ini bicara apa? Tentu saja aku akan tetap bersamanya karena aku mencintainya…” Ujar Hankyung sembari tertawa kecil.

“Hankyung.. Hidupnya takkan lama lagi, Penyakit dalam tubuhnya sudah mulai menyerang pada syaraf-syarafnya dan kerja ototnya mulai tidak stabil..” Jelas Zhoumi dengan raut wajah sedih.

Hankyung sedikit terkejut dengan apa yang di katakana Zhoumi. Tapi pada dasarnya ia sudah mengetahui jika hal ini akan terjadi karena Hankyung mengambil jurusan Kedokteran di Kuliahnya. “Kau tenang saja, Aku berjanji akan selalu berada di sampingnya…” Ujar Hankyung dan Zhoumi pun segera memeluknya.

“Terima Kasih, Aku tau kau adalah sahabatku yang baik…” Ujar Zhoumi dan Hankyung hanya mengangguk pelan.

##########

Hari demi Hari berlalu dengan cepat, Dan begitupun dengan kesehatan Miyoung yang semakin memburuk. Kini ia mulai mengenakan kursi roda dan wajahnya nampak pucat seakan bagaikan sebuah mayat hidup.

“Miyoung, Lihat apa yang aku bawakan untukmu…” Ujar Hankyung sembari menunjukkan sebuket bunga mawar merah padanya.

“Wuaaah… Cantik sekali bunganya. Terima kasih…” Ujar Miyoung senang dan mengambil bunga itu meski tangannya sedikit bergetar dan sulit untuk bergerak sesuai kemauannya tapi ia mampu mengambil bunga itu.

Hankyung mengangguk dan mulai mendorong kursi roda Miyoung dengan perlahan. “Ehm, Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?” Tanya Miyoung dengan lembut.

“Tentu, Apa?” Tanya Hankyung seraya berjalan ke depan dan berjongkok di hadapan Miyoung.

“Bisakah kita melihat matahari terbit sekarang? Maukah kau menemaniku melihat matahari terbit hari ini?” Ujar Miyoung dengan antusias.

Tapi tidak dengan Hankyung yang terlihat kaget dan seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya itu. “Tapi… Kau tidak bisa…”

“Tentu saja aku bisa…” Potong Miyoung. “Aku bisa menggunakan pakaian pelindung. Awalnya aku memang tidak menginginkan memakai itu karena aku akan terlihat seperti manusia aneh, Tapi untuk melihat matahari terbit bersamamu aku mau memakainya. Kau mau kan mengajakku ke tempat itu lagi??” Ujar Miyoung panjang lebar dan sangat bersemangat.

Hankyung terdiam dan ia menoleh pada Zhoumi yang berdiri di belakang mereka berada tak jauh dari jaraknya sekarang. Zhoumi mengangguk pelan dan akhirnya Hankyung pun mengangguk singkat. “Baiklah.. Aku akan membawamu ke tempat itu…” Ujar Hankyung dengan lembut.

“Benarkah?? Terima kasih…” Ujar Miyoung sangat senang.

Akhirnya dengan menggunakan pakaian pelindung, Miyoung dan Hankyung pergi ke Gunung Bukhansan mengunakan mobil yang jarang di gunakannya karena tidak mungkin Miyoung mampu menaiki motor.

Hankyung menggendong Miyoung keluar dari dalam mobil dan membiarkannya terduduk di atas mobil bersamanya. Ia melirik jam tangannya dan waktu menunjukkan pukul 4 pagi. “Sebentar lagi akan muncul…” Ujar Hankyung dengan lembut.

“Aku tidak sabar melihatnya…” Ujar Miyoung pelan. Ia sedikit kedinginan dan Hankyung pun memeluknya dari belakang, Mencoba menghangatkan tubuhnya.

Mereka saling terdiam satu sama lain, Menunggu matahari terbit. Tak berapa dari itu sang matahari mulai menampakkan sinarnya dan Miyoung seakan terkesima melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. “Indah…” Ujar Miyoung kagum. “Aku sudah bilang sebelumnya kan? Mataharinya memang sangat indah…” Ujar Hankyung semakin mempererat pelukannya dan begitupun dengan Miyoung yang menyandarkan kepalanya di dada Hankyung.

“Ingin rasanya aku bisa melihat matahari seperti ini setiap saat…. Bersamamu…” Ujar Miyoung pelan. Hankyung hanya terdiam dan mencium puncak kepala Miyoung. “Hankyung, Saranghae…” Ujarnya lagi.  “Nado Saranghae…” Jawab Hankyung sembari meneteskan air mata yang tak mampu ia bendung lagi.

<Miyoung PoV>

Kini, Aku tidak menyesali semua ini. Karena di balik semua kesedihan dan hal yang kualami ini. Aku dapat bertemu dengan seseorang yang dapat mencintaiku dan menemani hari-hariku yang singkat ini. Meski, Kehidupanku tidak lama tapi setidaknya aku dapat merasakan indahnya sebuah kehidupan. Dan kuharap dapat bertemu dengannya lagi di kehidupan mendatang.

##########

<Hankyung PoV>

Aku berjalan menghampiri sebuah kuburan yang terlihat masih baru bahkan tanahnya masih berwarnakan merah. Aku meletakkan serangkaian bunga di atas gundukan merah itu dan aku berlutut di hadapannya. Tertulis dengan jelas dalam batu nisan itu

Shim Miyoung

Lahir : 31 Maret 1989

Wafat : 19 November 2010

“Miyoung, Aku harap kau tenang di alam sana. Dan aku harap kita dapat bertemu lagi di kehidupan yang menatang. Miyoung-ah.. Saranghaeyo…” Ujarku pelan sembari mengusap lembut nisan yang berada di hadapanku. Lalu aku pun melangkah pergi meninggalkan makamnya.

The End…

 Ini FF Pernah Aku Publish Sebelumnya di SJFF…

Iklan

28 thoughts on “Songs in the Night (Part 3 of 3)

  1. bagus bagus
    agak sama dgn cerita midnight day. Tapi chingu bisa meng-improve dgn baik.
    Diawal ak berharap kalo endingnya bakal happy. Hangkyung setia menemani miyoung smp akhir hayat.nya
    (sok romantis bgt deh gue).
    Tp tetep oke!

  2. Huwaaaa~ aku nangissss baca FF ini 😥 sama hal nya waktu aku nnton taiyou no uta (midnight sun) ceritanya bagus banget onn ^^ walaupun agak mirip sm taiyou no uta, tp ini lain lagi hehe aku sukaaaaa 😀

  3. Sediihh bangett FF-nya thor.. Hankyung namja hebat, bahkan dia masih setia dengan Mi Young walaupun dia tahu klw pda akhirnya Mi Young akan Pergi untuk selamanya..
    Daebak author 🙂

  4. mian,,Q cma komen d part akhr na j y chingu…
    Hehehehe…

    ff na bgz chingu,,udah Q duga bakal sad ending..
    Q pling suka bgian d part 1 wktu hankyung triak” manggil miyoung nyuruh trun k bwah n d part akhr wktu mreka liat mthari t’bit…
    ^^

  5. kisah ini hampir sama kaya film taiyo no uta *bener gak nulisnya?* bukan?
    sekilas mirip… tapi berbeda..
    cuma latar minyeong yang punya penyakit yang sama.. tapi
    cerita keseluruhannya berbeda
    so sweet banget ceritanya >o<

  6. huaaaaaaaaaaaaaaaaaa~ sedih banget bacanya.. :””””” tapi gapapa deh yang penting mimi oppa milikku *plakk xD
    keseluruhan part cukup bagus kok dan bikin aku berimajinasi

  7. bgus bngt kok eonn…
    mskipun critanya agk mirip dengan taiyo no uta yng d bntangi oleh”YUI”..tp eonnie bs mengiprove nya dengan sedemikian rupa…keren… 🙂

  8. ehem, daebak eonni…
    Hapir sama dgn film nya yui ya..
    Tapi kalo di sana yui nya yg maen gitar,,
    Hehehe,,,.
    Nice ff eonni,,,

  9. Sad ending??? Gag papa yg penting miyoung sdh pernah liat matahari terbit bersama org yg dicintai… Han gege emang bkan jodoh’a miyoung karna miyoung entu punya mimi kekeke *abaikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s