When You Believe (Chapter.1)

Title         : When You Believe

Author     : NtaKyung

Casts       : 

  • All Member Super Junior
  • All Member DBSK/TVXQ/JYJ
  • Other Cast

Length     : Series

Genre      : Drama, Family, Friendship, Romance, School Life.

Rating      : PG-13

Summary : Anvield Art Accademy, adalah sekolah seni terkemuka di London, Inggris. Dengan masa pembelajaran lima tahun, dari berbagai macam jurusan. Ada Seni Musik, Seni Tari, Seni Peran, Seni Lukis, dan Entertainment. Masing-masing jurusan benar-benar mempertajam jenis seni yang mereka ambil, sehingga siapa pun yang bersekolah disana, akan menjadi seniman-seniman hebat dunia.

Prinsip Anvield Art Accademy hanyalah jika kau punya mimpi, niat, dan kemauan untuk meraihnya, maka apa pun akan terjadi. Dan siapa pun yang tidak berusaha keras, akan terseleksi dengan sendirinya oleh alam.

Murid-muridnya terseleksi dengan ketat melalui tes, dan seleksi umur, yang diperbolehkan masuk ke dalam sekolah tersebut hanya yang telah berusia delapan belas tahun, dan harus lulus dari tempat tersebut diusia dua puluh lima tahun, kurang boleh, tapi lebih tidak!

Di dalamnya terdapat banyak cerita. Ada keluarga, pengalaman-pengalaman, persaudaraan, persahabatan, dan tentunya, cinta. Ada yang sedih, ada pula yang senang. Ada baik, ada pula yang jahat… itu manusiawi, tapi bagaimana, remaja-remaja tersebut meraih cita-cita mereka, dibumbui dengan masalah-masalah kehidupan yang lainnya?

Story Is Begin…

*Januari 2011, 10.00 AM, GMT*

Hujan turun dengan derasnya, membasahi kota London yang indah di pagi hari. Musim dingin memang belum benar-benar meninggalkan Inggris. Dengan merapatkan mantel, syal, sarung tangan, dan topi wollnya, seorang gadis melangkah pelan keluar dari dalam peron. Gadis itu terus menggosok-gosokkan tangannya, dan kemudian dia mulai mendorong kopernya.

Setelah sampai di peron atas, gadis itu mencari-cari sebuah pintu keluar, dengan tulisan yang paling mencolok. Akhirnya gadis itu melihatnya, sebuah pintu keluar, dengan banyak anak-anak sebaya dengan dirinya sedang mengantri. Itu adalah jalur khusus anak-anak yang bersekolah di Anvield Art Accademy, termasuk Alice Park, nama sang gadis itu. Dia mendekat ke loket, dan menyerahkan kertas penerimaan sekolahnya.

“Oke, Bus khusus anak baru akan tiba sebentar lagi, busnya ada kodenya. Silakan naik ke terminal…” Ucap lelaki yang ada di loket tersebut.

“Terima kasih…” Alice mengangguk singkat, dan menyerahkan barang bawaannya kepada salah seorang petugas, hanya tersisa tas ranselnya yang berwarna cokelat yang dipakainya. Alice mengikuti beberapa anak, yang nampaknya lebih senior darinya naik ke tangga menuju terminal, dua anak di depannya nampak mengobrol mengenai tugas liburan musim dingin mereka.

Akhirnya Alice tiba juga di anak tangga paling atas, di jalur terminal khusus Anvield Art Accademy, sudah banyak sekali anak-anak yang memenuhi tempat tersebut, dan menaiki bus-bus yang tersedia.

“Halo… Ehm… Miss?” Tanya seorang petugas.

“Park, Alice Park…” Sahut Alice pelan.

“Alice Park… Tahun pertama, Ya? Silakan tunggu di sana, busnya kurang lebih dua puluh menit lagi…” Jelas petugas itu sambil mencontreng nama Alice, Gadis itu pun mengangguk dan kemudian mulai mengambil posisi duduk yang nyaman untuknya.

Tepat ketika dia duduk, terdengar suara pekikan. Alice mendongak, dan terperanjat dengan orang yang berdiri di depannya. Kedua mata mereka membelalak kaget saat bertemu pandang.

”Apa yang kau lakukan disini?!” Seru pria itu.

Alice berdiri. ”Seharusnya aku yang bertanya seperti itu!! Apa yang kau lakukan disini? Mom bilang…” Alice terdiam.

”Tapi Dad bilang…” Keduanya saling berpandangan dan langsung mengerti. Kedua orangtuanyalah yang merencanakan semua ini. Keduanya saling pandang sinis, dan menghela napas.

Alice berdiri, ”Oke, aku tidak jadi!”

“What?!” Pekik pria itu. ”Kau tidak jadi masuk Anvield karena ada aku disini?! Aku sudah mau keluar duluan begitu melihatmu disini!” Tambahnya. ”Kenapa kau jadi ikut-ikutan?”

“Ikut-ikutan?!” Alice mendelik pria itu tajam. ”Kau yang ikut-ikutan! Aku jelas mau keluar duluan!” Serunya,  “Ah…” kemudian Alice tersenyum sinis. ”Atau jangan-jangan kau sengaja ya, agar aku keluar?”

“Kau yang sengaja agar aku juga keluar!” Tuduh pria itu seakan tak ingin kalah dalam perdebatan sepele ini.

“Aku tidak jadi keluar!” Kata mereka berdua bersamaan, membuat semua orang yang menunggu disitu memandang mereka dengan pandangan bingung. Alice dan pria itu saling pandang tajam.

“Hei… bisakah kalian tidak bertengkar?!” Keluh suara lainnya.

Keduanya menoleh, dan terbelalak lagi untuk kedua kalinya saat mendapati satu wajah yang familiar oleh mereka berdua.

“Hei, kau jadi masuk sini?!” Tanya pria yang bertengkar dengan Alice itu.

Cowok yang bertanya itu mengangguk. ”Ah… kenapa aku harus satu sekolah lagi dengan kalian berdua sih?! Sudah cukup neraka hidupku semasa kita SMA, pakai kuliah ketemu kalian lagi…” Keluhnya.  “Micky, Alice… Tak bisakah kalian berdamai? Itu yang diinginkan Paman dan Bibi…” Tambahnya.

”Itu takkan pernah terjadi!” Sentak Alice dan Micky bersamaan.

“Dan kau, Xiah! Jangan terus mengguruiku! Kau ini sahabatku tapi kenapa kau selalu menyuruhku berbaikkan dengan dia?!” Tunjuk pria bernama Micky itu pada Alice.

“Hei! Aku bahkan tidak sudi baikkan denganmu!” Timpal Alice sengit.

Xiah menghela napas dalam-dalam, ”Sudah… sudah… diam saja kalian berdua! Ini tempat umum! Jangan bikin masalah di sekolah baru ini…” Ujar Xiah kesal. ”Sebaiknya kalian simpan dulu, urusan kalian itu… Aku tidak akan ikut campur kecuali kalian bertengkar di tempat umum lagi!”

Dan di saat mereka mendengar ucapan Xiah itu, Merekapun terpaksa diam. Karena meski bagaimanapun juga, Setidaknya mereka juga dapat berfikir jika tempat ini adalah tempat umum bukan?

Di sisi Lain…

”Woah berantem…” Celeteuk seorang gadis di pojok, suarnya pelan, Tapi tidak cukup pelan untuk di dengar pria yang duduk di sebelahnya.

”Sssttt! Jangan kencang-kencang!” Ujar pria itu pelan. ”Mereka walaupun kelihatannya tidak malu bertengkar di depan umum, Tapi mereka pasti lebih suka jika kita berpura-pura tidak tertarik dengan urusan mereka.” Ucapnya lagi.

Wanita itu masih terus menatapi kedua orang yang bertengkar, Kemudian datang satu orang lagi yang berusaha melerai mereka. Gadis itu manggut-manggut, ”Sepertinya mereka bersaudara…” gumamnya lagi.

“Michelle, Sudahlah!” pria ini menyenggol gadis itu. ”Kau ini senang sekali mengurusi masalah orang lain…”

”Aku cuma prihatin, Spencer!” Desis Michelle.

Spencer terkekeh, ”Hey, Jangan marah! Aku hanya mengingatkan saja…” Spencer mengacak-acak rambut gadis di sebelahnya itu, dan mencubit pipinya. ”Kau ini sudah bukan anak TK lagi, Masa begitu saja marah?”

”Aku kan tidak bermaksud menguping! Aku hanya tidak sengaja melihat, Karena mereka bertengkar di tempat umum!”  Jelas Michelle.

”Hah, Kau ini tetap tidak mau mengalah…” Spencer menggelengkan kepalanya pelan.

”Kau yang seharusnya mengalah, Spencer Lee! Aku ini kan wanita…” kata Michelle sambil mengibaskan rambutnya yang panjang.

Spencer terbahak. ”Hey, sejak kapan seorang Michelle Choi mau dianggap wanita?!” Ejeknya.

”Sejak lulus SMA!” Timpal Michelle ketus.

”Ahahahaha… Dasar, Kau ini…” Spencer masih terus tertawa.

”Tertawa lagi, atau aku akan melupakan sahabatku sejak kecil ini ya?!” ancaman paling mengerikan itu akhirnya keluar dari mulut Michelle, Spencer langsung pura-pura berakting seolah ia mengunci mulutnya, Meskipun terlihat jelas ia seperti menahan tawanya.

*           *           *

Bus untuk murid baru akhirnya tiba, sekitar dua puluh anak mulai masuk ke dalam bus tersebut, termasuk gadis ini, dia dengan wajah kebingungan dan kerepotan membawa minuman dan kertas, sehingga ketika seorang pria dan wanita yang bergandengan tangan melewatinya, dan tidak sengaja menyenggolnya, semua barang yang dipegangnya jatuh.

”Aiden, Wait!” Tahan gadis yang digandeng oleh si pria itu, Ia langsung berjongkok membantu gadis yang barang-barangnya jatuh itu. Pria yang bernama Aiden berbalik dan ikut membantu. “Sorry…” Ucap gadis itu ramah.

Gadis yang di tabraknya itu hanya mengangguk kecil seraya tersenyum tipis. “Tidak apa…” Balasnya tak kalah ramah.

Dia melihat sebuah foto panggung yang ikut terjatuh, dan menyerahkannya kepada gadis itu, gadis itu mendongak, dan membungkuk terima kasih.

”Sorry, Miss…” kata Aiden sopan pada gadis itu, ”Ayo, Jaqlyne…” dia kemudian menggandeng gadis bernama Jaqlyne itu ke tempat duduk terdekat. Sementara gadis yang barang-barangnya jatuh tadi mencari tempat duduk sendirian.

”Eiii… Dilihatin terus!” Jaqlyne menyikut Aiden.

Aiden tersenyum. ”Kenapa? Cemburu aja…” Elak Aiden sambil terus memerhatikan gadis yang tadi.

”Tuh tuh tuh… gak mau ngaku!” Tunjuk Jaqlyne pada wajah Aiden, Sedetik kemudian gadis itu menggem-bungkan pipinya. ”Aku tidak pernah melihat Aiden seperti ini pada gadis lain! Heuh, awas kau!”

”Apa sih?!” tanya Aiden setengah hati, sementara gadis yang diperhatikannya sedang nampak kerepotan, dan Aiden melihatnya seperti gadis itu canggung sekali, Seperti ketakutan, mungkin ketakutan kata-katanya yang berlebihan, tapi lebih ke gugup. Karena dia murid baru, mungkin.

Jaqlyne melirik Aiden, kemudian berdecak, dan meraih wajahnya lalu dipalingkan ke arahnya. ”Ayooo… ketahuan, lagi lirik dia kan?!”

”Tidak!” Elak Aiden lagi sambil tersenyum.

*           *           *

Seorang pria dan wanita di sebelahnya sedang mengecek nama-nama murid angkatan pertama, setelah nama-nama murid yang turun cocok dengan yang ada di daftar, sang pria melepaskan almamaternya.

”Aah capek juga… Ash, kau tidak lelah?”

Gadis itu menggeleng. ”Ini menyenangkan, Aku sudah menanti-nantikan hal ini tahun lalu ketika aku masih junior, ha ha ha…” Ujarnya semangat. ”Oiya, Dennis… kau sendiri tidak lelah, kan? Seharusnya jika kau lelah, kau tidak akan bertugas disini, ini kan tahun terakhirmu, Kau pasti bisa menyuruh yang lebih muda…”

”Sebetulnya capek sih, capek, Ash… Tapi justru karena ini tahun terakhirku disini…” senyum Dennis. ”Aku mau benar-benar menikmati Anvield dalam tahun terakhirku sekolah disini.” Ucapnya dengan santai. “Ash, apa yang paling kau tunggu setelah satu tahun asrama di Anvield?”

Gadis bernama Ashley itu terdiam berpikir, ”Apa yaaa? Hmm, Mungkin Anvield Festival…”

”Iya kan? Aku juga sangat menantikan Anvield Festival, karena disana kita benar-benar mencari pengalaman, dan kesempatanku tampil disana tinggal tahun ini… Dan kesempatan bertemu junior-juniorku disini, ya juga tinggal kali ini… Jadi ya, aku cuma memanfaatkan waktu yang tersisa saja kok…” jelas Dennis panjang lebar. ”Setelah ini kan aku harus konsentrasi di pelajaran, he he he…”

Setelah itu keduanya sibuk mengurusi murid-murid dari bus yang baru datang lagi. Mengecek nama mereka, dan nomor ujian mereka, kemudian barulah mereka dipersilakan masuk ke Ruangan Registrasi, untuk daftar ulang, kemudian mereka dipersilakan untuk memilih jurusan mereka sendiri, barulah mereka akan dimasukkan ke dalam asrama-asrama.

Dennis dan Ashley ikut juga membantu proses registrasi para murid baru, terutama mereka berdua, dan teman-teman senior lain yang juga jadi panitia penerimaan siswa baru membantu anak-anak yang terlihat kebingungan saat mengisi formulir, dan masih bingung hendak memilih jurusan yang mana.

”Mom… tapi aku mau jurusan Seni Tari, aku mau belajar balet…” rengek seorang gadis pada teleponnya, dengan kertas di tangannya, dan seorang pria di sebelahnya mengangkat alis. ”Mom… err, ya Dad? Aku mau tari… Mom mau aku masuk Akting…” ujar gadis itu putus asa. ”Hee? Dad mau aku musik? Astaga, aku sudah bingung… Dad!” keluhnya.

Pria disebelahnya hanya mengelus-elus bahunya, ”Sudahlah, Jaqlyne…”

Dennis tersenyum kecil, Dennis tahu apa yang terjadi, gadis bernama Jaqlyne itu pastilah ingin masuk jurusan Tari, sementara sang ayah memintanya apa tadi? Musik, dan ibunya memintanya akting. Dennis tersenyum lagi, dia ingat pengalamannya ketika masuk dulu, persis sama seperti gadis ini.

”Ya, Dad… iya…” dia menutup ponselnya dan mendesah, menatap pria di sebelahnya sedih. “Ah, aku harus bagaimana?!”

”Apa kata ayahmu?” tanya pria itu kalem.

”Dad mau Musik, Mom mau akting… aku mau tari, kau tahu itu…” Keluh Jaqlyne kesal sambil bersedekap.

Aiden tersenyum. ”Jadi, kau akan ikut siapa? Ibumu, ayahmu, atau dirimu sendiri?” Ujarnya tenang.

”Aku tidak tahu, Aiden… apa yang harus aku pilih?”

Dennis mendatangi mereka, ”Halo… Ada yang bisa kubantu?? Kulihat sepertinya kalian sedang bingung…” Ujar Dennis ramah. ”Kenalkan, Dennis Park, jurusan Entertainment… tahun kelima.” Lanjutnya seraya mengulurkan tangannya.

”Oh, Hai… aku Jaqlyne Shin, ini Aiden Lee…” Gadis itu menjabat tangan Dennis sambil menunjuk Aiden. Aiden juga menjabat tangannya. ”Hanya bingung memilih jurusan…” Jelasnya kemudian.

”Boleh kulihat transkrip nilaimu?” Tanya Dennis pada Jaqlyne. Dennis membacanya, ”Hmm… kau bagus dalam banyak bidang, Shin…”

”Just Jaqlyne… not Shin, too many Shin in this world…” Ucap Jaqlyne.

”Oke, Jaqlyne… Kau banyak sekali pintar dalam berbagai bidang…” Ujar Dennis sambil medongak, Jaqlyne berseri-seri, dan Aiden mengelus kepalanya pelan, Dennis tersenyum melihat mereka berdua, Apalagi gadis itu nampak senang diperlakukan seperti itu oleh Aiden. ”Kau harus memperhatikan keinginanmu, Jaqlyne, karena bersekolah disini kalau tanpa passion dari dirimu sendiri bisa bahaya…”

”Aku mau ambil tari…” Sahut Jaqlyne yakin. ”Tapi sepertinya tidak ada yang mendukungku dalam mengambil jurusan tersebut…” Dia melirik Aiden, Aiden mengangguk.

”Kurasa ada baiknya kau mendengarkan orang tuamu, Jaqlyne…” Kata Aiden sambil melempar pandangan teduh.

”Tapi kan…” Keluh Jaqlyne.

”Begini saja, kubagi pengalamanku dengan kalian… Aku juga dulu sama sekali tidak mau masuk Entertainment, tapi paksaan kedua orangtuaku… Namun pada akhirnya aku menemukan diriku senang di jurusan tersebut. Hanya saja aku bukan memberikan saran menyesatkan dengan memintamu mengikutiku tapi kau tidak suka jurusan yang dipilih oleh orang tuamu…” Dennis mengembalikan transkripnya. ”Karena kalau kau sendiri tidak menyukai bidang tersebut, kau tidak akan bisa bertahan lama.”

Aiden menghela napas, ”Kusarankan kau memilih Entertainment atau peran, Jaqlyne… Kau menguasai bidang kedua itu paling tinggi…”

”Hanya karena kau tidak mau kuikuti!” Tuding Jaqlyne mengerikan.

”Ya Tuhan, Jaqlyne …” Desah Aiden seraya memutar bola matanya. ”Apa yang salah dengan itu? Kita masih satu kampus…”

Dennis tersenyum lalu minta diri, meninggalkan Jaqlyne dan Aiden berdua saja.

*           *           *

Setelah pemilihan jurusan dan pendaftaran ulang, akhirnya seluruh murid dikumpulkan di Aula Besar, seperti Aula Besar di film Harry Potter, hanya saja tanpa lilin-lilin melayang sendiri. Disini full memakai lampu, dengan lima meja panjang menurut asrama, dan dengan meja memanjang untuk para staff pengajar.

”Para Leader , dipersilakan maju ke depan…” perintah sebuah suara dari pengeras suara. ”Selamat datang kepada murid-murid baru Anvield Art Accademy, saya Professor Bluebottle Kepala Akademi, saya mengucapkan selamat datang mewakili Rektor, yang pada saat ini tidak dapat hadir, karena ada suatu urusan. Sebelum kita berbicara lebih jauh, saya akan perkenalkan 5 leader, dan bagi para murid baru, kalau ada yang perlu ditanyakan atau masih bingung dapat bertanya kepada mereka.” Jelas Professor Bluebottle.

Para murid baru mengangguk dengan wajah malu-malu karena ditatap senior-senior mereka yang sudah duduk di meja masing-masing.

”Nah mereka berlima ini adalah Leader dari masing-masing jurusan, jurusan pertama Musik, leader-nya Hero Kim… kemudian jurusan Tari, U-Know Jung… jurusan Peran, Max Shim, jurusan Lukis, Matthew Shin… dan Entertainment, Dennis Park. Kemudian kalian akan masuk ke dalam asrama. Sekarang, sebelum masuk ke dalam asrama, kalian dipersilakan duduk sesuai jurusan masing-masing, dan para leader tolong dibantu juniornya…”

Dan terjadilah hiruk pikuk diantara para senior yang berdiri memberi tempat, dan para junior yang malu-malu hendak duduk di meja panjang tersebut. Diantara hiruk pikuk tersebut, seorang gadis mungil, dengan wajah bundar, dan mata teduh sedang mencuci tangannya di wastafel, dia mengagumi seluruh interior kamar mandi sekolah, sebelum menyadari bahwa sudah waktunya ia kembali, dan takut tertinggal teman-teman seangkatannya. Benar saja begitu dia melirik ke pintu aula, rata-rata teman-temannya sudah duduk, wajahnya langsung pucat, dan dia langsung meremas-remas tangannya gugup.

Tanpa disadarinya, seorang pria berambut jerami sedang menatapnya bingung, sambil ikut meremas-remas tangannya, dan meneliti pandang ke seluruh Aula Besar, dengan wajah ikut-ikutan cemas. Ketika gadis di depannya menghela napas berat, pria ini ikut menghela napas berat, sampai akhirnya si gadis sadar bahwa ada yang memerhatikan dan menoleh, lalu terlonjak. Pria itu nyengir.

”Ah…” gadis itu berkomentar kecil.

”Kau sedang apa? Begini… begini…” pria itu menirukan gerakan gadis tadi yang meremas tangannya.

”Ah…” gadis itu bergumam.

”Ah…” ditirunya lagi gadis itu, lalu dia tertawa. ”Kau pasti murid baru, takut ya? Sudah jangan takut, tak ada yang menerkam!” kata pria ini enteng. ”Kau siapa? Namaku Jeremy…”

Gadis itu menjabat tangan Jeremy takut-takut. ”Amora Tan…”

”Oke, Amor… kupanggil begitu ya?” Kata Jeremy seenaknya. ”Kau jurusan apa?”

”Lu…  lukis…” Jawab Amora terbata.

”Ya Tuhan, takkan ada yang menerkammu…” Ujar Jeremy enteng. ”Aku juga takkan menerkammu, Amor…” kata Jeremy dengan panggilan yang seenak-enaknya dia buat. ”Aku jurusan Peran, kalau kau takut ada yang mengganggumu, bilang saja kau punya kakak, kelas empat di jurusan peran… Ayo kuantar…” Jeremy membawa, atau lebih tepatnya mendorong Amora masuk ke dalam Aula Besar, dan mengantarnya ke meja keempat. ”Hei, Matthew!” panggilnya pada seseorang.

Yang dipanggil Matthew menoleh, ”Oh, hai Jer…”

”Ini ada anakmu ketinggalan,” Tunjuk Jeremy seenaknya. ”Dia adikku, namanya Amor…”

” Amora!” Ujar gadis itu kecil.

”Ya, begitulah…” tutup Jeremy tak peduli. ”Kau jaga dia ya, kalau dia kenapa-napa kuhajar kau! Oke, Amor… aku pergi dulu, ini mejaku… kalau kau takut panggil saja aku, Jeremy Kim!”

Matthew terkekeh lalu memandang Olivia, ” Amora… ayo duduk,” katanya ramah.

”Namaku Amora…” Cicit Amora rendah, dan duduk dengan canggung, sementara leadernya yang bernama Matthew itu sudah mengobrol dengan teman-teman seangkatannya. Amora menghela napas dan memandang sekeliling ruangan dengan ketakutan, dan gugup.

”Hei…” sapa seseorang menjawil bahunya, Amora menoleh, seorang gadis berwajah ceria sedang tersenyum menatapnya.

”Hai…” balas Amora takut-takut.

”Kelas satu?” tanyanya. Amora mengangguk singkat untuk menjawabnya. ”Woah!” Seru gadis itu bersemangat. ”Kenalkan, Cecille Kim… you can call me, Cecille! Kita jadi teman ya…”

” Amora Tan…”

”Ah, kau lucu sekali!” Cecille mencubit pipi Amora gemas.

Wajah Amora memerah, ”Terima kasih…”

”Oke, sekarang Leader, ajak murid-murid baru ini asrama, dan terangkan tata tertib, serta hal-hal yang berlaku disini, pukul tujuh malam kita makan malam bersama, dan untuk murid-murid senior, dipersilakan menemui Kepala Bidang Studi masing-masing untuk pemilihan jadwal…” perintah Professor Bluebottle tadi.

Kelima leader langsung berdiri, dan mengajak murid-murid menuju lantai lima, menggunakan eskalator, sambil menjelaskan ruangan-ruangan yang mereka lewati. Gedung ini seperti bandara tapi dengan banyak ruangan, terlalu banyak jendela, dan warna putih yang mendominasi. Setiba di lantai lima, mereka mengikuti kelima leader tersebut masuk ke dalam ruangan berpintu kaca ganda, hanya dengan sensor tangan, pintu itu menggeser terbuka, dan terpampanglah ruangan besar seperti lapangan bola, dengan banyak kursi, sofa, meja, dan rak-rak buku.

”Ya ini ruang rekreasi, kelas satu… dan pintu di sebelah kanan itu kamar anak-anak perempuan, dan di sebelah kiri kamar anak laki-laki. Satu kamar satu jurusan, nanti disana ada ruangan khusus jurusan masing-masing…” Tunjuk Dennis keluar. ”Kalau disini, pokoknya untuk angkatan kalian deh…”

Para murid baru mengangguk.

”Trus peraturannya simpel aja, nggak boleh membuat kegaduhan, kekacauan, ya kalian harus tau mana yang baik dan mana yang buruk, sanksi nanti pertama bisa kita yang kasih sebagai leader, dan lebih beratnya langsung dari staff pengajar…” jelas Hero Kim, leader dari jurusan musik.

”Juga gak boleh merusak!” tambah Matthew, leader Seni Lukis.

”Yah intinya kalian kan udah tau mana yang boleh dan mana yang tidak, dan oh iya, jam malamnya!” Max Shim, leader jurusan peran mengingatkan.

U-Know Jung, leader Seni Tari menjawabnya, ”Jam malam hanya sampai jam sembilan, kalau masih ada yang berkeliaran diluar asrama sesudah jam sembilan, urusannya sama Kepala Jurusan masing-masing, kecuali kalau memang ada keperluan, dan harus izin juga.”

Dennis mengangguk, ”Kalau begitu sepertinya sudah disampaikan semua? Ingat, tadi jam tujuh malam kita makan malam bersama di Aula Besar, kalian boleh istirahat, dan kalau bisa kalian saling mengenal dulu lah satu sama lain, kita tinggal ya…” Dennis pamit, diikuti keempat leader lain.

Seisi ruangan kemudian riuh rendah, mengiringi semuanya yang saling berbicara berbarengan, dan berkenalan satu sama lain. Mudah dikenali siapa yang paling menonjol di antara mereka, gadis bernama Jaqlyne Shin tiba-tiba saja sudah dikenal seluruh angkatan kelas satu, dia kesana kemari menyapa siapa pun, dan Aiden Lee yang disebelahnya pun akhirnya mau tak mau ikut terkenal.

Tapi Aiden nampak lebih kalem dari Jaqlyne yang ceria dan lincah, sehingga semua pria langsung suka padanya, Aiden hanya senyum, dengan tangannya digandeng oleh Jaqlyne.

”Hai, Aiden… Aku Spencer dan ini Henry… kami juga anak Tari…” kata Spencer saat Jaqlyne mengenalkan Aiden padanya.

Aiden tersenyum, ”Oh ya? Halo, aku Aiden… sepertinya aku akan sekamar dengan kalian…”

Henry tersenyum hangat, ”Mau ke kamar sekarang?” tawarnya.

”Ah, tentu…” ujar Aiden penuh terima kasih, dan dia mengikuti Henry setelah pamit pada Jaqlyne, diikuti Spencer.

*Kantor Jurusan Lukis*

“Hai… Ash!” Sapa seorang gadis hendak keluar dari kantor jurusan lukis.

“Oh, Hai… Claire!” Ashley tersenyum tipis. “Kau sudah mengambil jadwalmu?” Tanya gadis itu kemudian.

“Yah…” Claire mengangkat sebuah kertas yang sudah di simpannya ke hadapan Ashley. “Hah… Sepertinya jadwal kita akan bertambah padat nanti…” Keluhnya.

“Hahahaha…” Ashley terkekeh kecil. “Ah, Kalau begitu aku akan mengambil jadwalku juga. Bye…” Pamitnya.

“Ok…” Dan setelah itu pun Claire pergi meninggalkan ruangan tersebut, Sedangkan Ashley masuk keruangan itu dan menemui seseorang.

”Ini jadwalmu, Miss Shim…” kata Profesor Park sambil menyerahkan kertas dan folder berisi brosur-brosur kegiatan kepada Ashley Shim yang sudah meregistrasi jadwalnya untuk tahun keduanya di Anvield Art Accademy. Sambil membaca-baca jadwalnya yang baru dia berjalan keluar dari dalam ruangan tersebut.

”Ash…”

Ashley mendongak, kemudian tersenyum, ”Hai, Mimi…”

”Bagaimana liburan musim dinginmu?” tanya Mimi sambil tersenyum dan merendengi langkah Ashley berjalan.

”Baik, baik… tidak ada yang spesial,” kata Ashley ringan.

”Bagaimana mungkin ada yang spesial kalau kau habis putus cinta ya kan?” ledek Mimi, yang langsung dihadiahi pukulan, Mimi tergelak sambil menghindari pukulan maut dari Ashley.

Ashley menggetok pria jangkung tersebut. ”Bisakah kau berhenti membicarakan hal putus cinta itu?!”

”Ahahahaha, sudahlah, Ash… carilah pria tampan lain, lihat ada aku kan disini?” ledek Mimi.

”Hahaha…” Ashley tertawa sinis. ”Kau mau mati ya?”

”Setidaknya aku tidak mati merana karena kejamnya cinta, Ash…”

”Mimi! Kau ini…” dan Ashley kemudian mengejar cowok jangkung yang jadi sahabatnya setahun terakhir ini.

Tanpa disadari kedua orang itu, seorang pria sedang memandangi mereka dari kejauhan. ”Josh, what’s up? Professor Pennyfeather sudah selesai memberimu jadwal, kan?”

”Ya, sudah…” Josh mengalihkan pandangannya, tapi Casey, yang merupakan sahabatnya tahu kalau ada yang dipikirkan oleh pria tampan itu, maka Casey melihat ke arah yang diperhatikan Josh tadi, dan paham.

Ashley Shim, mantan kekasih seorang Joshua Han, sedang bercanda dengan Mimi Zhou, murid kelas tiga jurusan Peran. Casey cuma menepuk bahu Josh, dan mengajaknya pergi dari situ. Kisah cinta itu memang ada dua ujung kan? Berakhir bahagia, dan berpisah jalan! Dan mungkin begitulah kisah antara Josh dan Ashley, meski Josh sepertinya tidak bisa sepenuhnya lupa pada Ashley. Tapi Casey kembali menoleh kepada Ashley dan Mimi yang sedang bercanda berdua, sepertinya Ashley baik-baik saja tanpa Josh.

*Di Depan Kantor Jurusan Tari*

”Walaaaah, jadwalku penuuuuuh!” seorang gadis menggaruk-garuk kepalanya sambil memandang kertas di hadapannya. ”Jurusan musik memang merepotkan, hah… tak apalah… demi cita-cita!” ujarnya sambil memasukkan jadwalnya ke dalam folder yang diberikan.

”Janice…”

Janice mendongak, dan mendapati sang kekasih menunggunya. ”Hai, Vincent…” Ia langsung masuk dalam pelukan pria berparas tampan, dengan senyum memukau di wajahnya. ”Bagaimana kabarmu? Pulang ski badanmu tambah bagus…” puji Janice.

”Tentu, siapa dulu? Vincent Lee…” pujinya sendiri.

”Ahahahaha! Kau ini…” Janice memukul pelan dada kekasihnya itu dan kemudian kembali memeluknya erat sambil berkata, “I miss you

”Miss you too…” Balas Vincent seraya mengecup kening Janice singkat. “Bagaimana jadwalmu tahun ini?” tanya Vincent sambil terus merangkul Janice membawanya pergi dari ruangan itu. ”Jadwal musikalku tahun ini makin seru sepertinya.”

”Yeah, aku juga… kau harus membantuku!”

”Tentu, karena kau juga sumber inspirasiku…” Janice membalas rangkulan hangat yang di berikan Vincent seraya berjalan menuju koridor.

To Be Continued…

Annyeong… Seperti biasa aku akan menyapa readersku terlebih dulu… Hahahahahay… Oh, Yah… Seperti janjiku sebelumnya, Aku bakalan publish ff neh hari ini… Dan berhubung ff ini hasil ff remake dari ff @ccl_haejin di mohon untuk tidak menganggap ff ini PLAGIAT!! Karena jelas ff ini dah dapet izin sebelumnya dari pemiliknya… Hohohoho

Dan satu lagi… Untuk prolog dan part.1 cuman beberapa yang kuubah selebihnya masih sama persis dengan ff sebelumnya… Tapi untuk part selanjutnya itu REAL ide cerita saya… Jadi mohon di RCL yaaaah…  Oh, Iyah… Untuk part selanjutnya akan di publish setiap hari sabtu yaaaah… Hohohohohoho^^

Iklan

22 thoughts on “When You Believe (Chapter.1)

  1. part 1 aja keren gini >.<
    bayangin sekolahnya aja bikin mupeng,imajinasi tingkat tinggi 😀
    gara" nama cast pakai nama barat, harus buka 2 page (ff intro) kyahahaha *cupu*
    at least udah mulai ngeh siapa sama siapa, temenan sama siapa, jabatan, yah sama secuil kisah hubungan para cast 🙂
    Daebak!! part 1 jelasinnya detail 😀 walaupun baru beberapa cast 🙂
    nice ff!!
    di tunggu next chapt 🙂

  2. O.o
    oo-oohh..knpa jaqlyne pecicilan gtu??? sma aiden pla?? ahh…aigoo…jg malu nehh..

    ok msh permulaan,blm bsa bnyk comen,jg krn shock,itu jaqlyne koq jontik gtu,kta org padang….kkkkk~

  3. kyaaa keren onnie, mengambil suasan kota london 🙂
    aigo bingung ngapalin nama2.a eon, pake nama barat semua lols ehehe xD

    imy tebak eon, yg d tabrak sama aiden pas d bus itu pasti haejin *lupa nama barat.a* bner g?? ehehe

    kkk~ micky ama alice berantem mulu, tpi lucu 😀

    kyaaa YOUNGMI MOMENT ❤
    oh jadi ashley bru putus cinta toh, ayoo mimi peluangmu sangatlah besar buat dapetin ashley lols ehehe
    onnie, youngmi moment.a d perbanyak y hehe 😀
    daebak eon, lanjut ^^

  4. Haduh keren sgat part 1.a, tp msti smbl inget2 nama2 mrka. Al.a pake nama brt. Tggu2. Alice n micky bsaudara? Spencer n michelle pcran ato cma shbt? Jaqline(ni bnr nama.a g ya) ma aiden it pcrn g? Aish pnsaran2

  5. wlaupun ud liat prlog ma prkenalannya ttep aj lupa..-,-
    tp ttep mupeng ma skolahnyaX33
    kyu blom ad.. part slnjutnya minggu depan ditunggu..

  6. Daebaaak..keren2..
    aq jadi apal ma nama2 baratnya oppadeul niy,nta wkwk xD
    academy nya keren bgt,pngen deh kuliah dsini #mupeng berat..
    Lanjut nta…

  7. aduh aku lum ngeh spenuhnya ma nama2nya cz pke nama inggris#naneun paboya lemot bgt y c ak.
    Ak jd hrz buka prolognya lge,tp lw dh hafal pzt ngeh.cz crtanya bagus.it jeremi yesung ak kra heechul. . .
    Tp dy so kenal bgt y.hahaha

  8. Wooaah….ud lama ga ngunjungin blog.mu ta…bgitu buka baanyaakk ad yg bru….
    blum bca,,tpi comment dlu ah,,,
    bca prologny tdi bkin mupeng ta,,,pngen jg skolah dsna,,aplgy ad Marcus Cho,,
    kdu ngapalin nma brat mreka dong…(-__-a)biar feel.ny wkt bca ni FF kluar… *abaikan*
    yawda taa,,,aq bca dlu yaa… ^^/
    lanjutanny dtunggu ya taa…ga sbar nunggu crita ini dgn ide.mu hehehe 😀

  9. ngebayanin sekolah’y spt kastil2 d harpot…
    spt’y menyenangkan sekolah dsna, haha

    msh sedikit bingung ma nama barat mereka..
    klo cwo’y aku tau, klo cwe’y gak bs byangin’y.. 😀

    cast’y blm muncul smw..
    d’tunggu part selanjut’y… XD

  10. anyeong onnie..
    chacha imnida*readers bru d blog ini*

    iseng2 buka blog onnie trnyata part 1x when you believe ud ad.. aq pnsaran bgd ci..

    bcax agk pusing, g hpal nma brat castx sih..*ah, babo*
    nnti aq coba menghafalkan y onnie..*senyum2*
    byangin tmptx jd pgn bgd skolah d situ jg.. kyenz abiz.. k.ingetan harpot..

    dtnggu next partx onnie..
    fighting!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s