When You Believe (Chapter.2)

Title         : When You Believe

Author     : NtaKyung

Casts       : 

  • All Member Super Junior
  • All Member DBSK/TVXQ/JYJ
  • Other Cast

Length     : Series

Genre      : Drama, Family, Friendship, Romance, School Life.

Rating      : PG-13

Summary : Anvield Art Accademy, adalah sekolah seni terkemuka di London, Inggris. Dengan masa pembelajaran lima tahun, dari berbagai macam jurusan. Ada Seni Musik, Seni Tari, Seni Peran, Seni Lukis, dan Entertainment. Masing-masing jurusan benar-benar mempertajam jenis seni yang mereka ambil, sehingga siapa pun yang bersekolah disana, akan menjadi seniman-seniman hebat dunia.

Prinsip Anvield Art Accademy hanyalah jika kau punya mimpi, niat, dan kemauan untuk meraihnya, maka apa pun akan terjadi. Dan siapa pun yang tidak berusaha keras, akan terseleksi dengan sendirinya oleh alam.

Murid-muridnya terseleksi dengan ketat melalui tes, dan seleksi umur, yang diperbolehkan masuk ke dalam sekolah tersebut hanya yang telah berusia delapan belas tahun, dan harus lulus dari tempat tersebut diusia dua puluh lima tahun, kurang boleh, tapi lebih tidak!

Di dalamnya terdapat banyak cerita. Ada keluarga, pengalaman-pengalaman, persaudaraan, persahabatan, dan tentunya, cinta. Ada yang sedih, ada pula yang senang. Ada baik, ada pula yang jahat… itu manusiawi, tapi bagaimana, remaja-remaja tersebut meraih cita-cita mereka, dibumbui dengan masalah-masalah kehidupan yang lainnya?

Story Is Begin…

Anvield Art Accademy, hari kedua mereka di asrama, untuk tahun ajaran baru. Meski baru dalam semalam, banyak yang sudah menemukan teman, terutama teman sekamar, tapi ada juga yang tetap melanjutkan aksi permusuhan mereka, seperti Alice dan Micky. Tak perlu waktu lama untuk menyadari aura permusuhan yang terlalu pekat diantara mereka, hanya butuh waktu semalam, dan satu asrama sudah tahu kalau hubungan keduanya antagonis, karena semalam keduanya bertengkar hebat.

Kalau bukan karena Xiah Junsu yang memisahkan, bisa-bisa terjadi perang dunia, yang bahkan si Ratu Sejagad Jaqlyne tidak dapat menghentikannya. Yeah, bisa ditebak, Jaqlyne berusaha memisahkan pertengkaran antara Alice dan Micky dengan segala keanggunannya, tapi yang terjadi malah ia dibentak habis oleh Micky, dan menangis tersedu-sedu di pelukan Aiden, disaksikan puluhan pasang mata angkatan pertama.

Untungnya karena Xiah, Micky dan Alice pun melakukan kesepakatan tidak tertulis untuk gencatan senjata. Dan berhubung Micky dan Alice di dua jurusan yang berbeda, Xiah bisa lega sedikit, tapi masalahnya, jurusan Xiah juga berbeda dengan keduanya, jadi ada kemungkinan kalau mereka bertengkar, Xiah tidak ada.

Sarapan pertama para murid baru berlangsung cukup ceria, kali ini barulah hari berkenalan bersama senior-senior, yang bukan leader, mereka duduk semeja makan, dan saling berkenalan, sambil memberi nasihat-nasihat, tentang tabiat para guru, lalu pelajaran apa saja yang akan mereka dapatkan, dan nasihat-nasihat ngaco dari kakak-kakak kelas yang suka bergurau.

Xiah baru saja memastikan kalau baik Alice, dan Micky sudah duduk anteng di meja asrama masing-masing dan sarapan, barulah dia sendiri duduk dan mengambil mangkuk kosong.

“Makan yang banyak, Xiah… tugasmu itu berat, melindungi peradaban dunia dari perang dunia…” ledek seorang cowok berambut berantakan, berwajah tampan, dengan kesan bandel. Badannya jangkung dan cukup atletis, matanya menunjukkan bahwa cowok ini usil sekali. Dia menuangkan sereal banyak-banyak ke dalam mangkuk Xiah. ”Susu?”

”Terima kasih…” sahut Xiah.

Dan cowok itu menuangkan susu pada mangkuk sereal Xiah, Kemudian ia mulai menyantap sepotong roti di hadapannya.

“Hey.. Ayo makan sarapan pagimu itu. Kau tenang saja, Kedua orang itu tidak akan ribut.. Err, Mungkin untuk saat ini…” Ucap lelaki itu saat melihat Xiah yang menoleh pada arah Mickey dan Alice.

“Ah, Yah… Aku hanya malas jika harus mendengar adu mulut mereka…” Xiah mulai menyantap serealnya meskipun masih sedikit was-was-an jika nanti Alice dan Mickey kembali ribut.

“Ahahaha… Tugasmu memang berat, Xiah…” Tawa lelaki itu mendengar keluhan Xiah yang menurutnya begitu lucu.

“Berhentilah, Menertawaiku! Spencer!” Tekan Xiah yang sudah berkenalan dengan Spencer anak dari jurusan Tari itu.

“Ah, Baiklah…” Spencer kemudian menggerakkan tangannya ke hadapan bibirnya, Seolah ia bersikap sedang mengunci bibirnya.

“Kau ini!” Xiah mendeliknya tajam.

Namun Spencer hanya dapat terkekeh kecil seraya menggelengkan kepalanya saat menanggapi tatapan Xiah yang begitu tajam.

 *          *           *

Dennis memperhatikan seluruh adik juniornya yang masih asyik menyantap sarapan pertama mereka di Anvield Art ini. Dan tatapan matanya langsung tertuju pada Ashley yang sepertinya sedang menikmati sarapannya juga.

“Hai, Ash!” Sapa Dennis sambil duduk di sampingnya.

“Oh. Hai… Kau tidak sarapan, Dennis?” Tanya Ashley seraya menoleh sekilas padanya.

“Aku sudah sarapan… Kau tahu kan aku selalu tepat waktu jika menyangkut hal yang seperti itu…” Canda Dennis yang tentu saja membuat Ashley terkekeh kecil.

“Dasar!” Ia menoleh ke arah lain. “Dennis… Apa kau ingat dengan gadis itu?” Tanya Ashley kemudian.

“Siapa?” Dennis ikut menoleh pada arah tatapan Ashley. “Oh… Kalau tidak salah, Dia adalah Jaqlyne Shin… Hm, Sepertinya dia gampang sekali berbaur…”

“Yah, Tapi dia tetap tidak bisa jauh dari lelaki di sampingnya itu!” Tunjuk Ashley seakan sedikit menyindir.

Dennis menoleh pada Ashley sambil tersenyum tipis. “Hey… Bukankah hal itu yang selalu kau lakukan dengan Joshua dulu?” Ia justru menyindir balik pada gadis itu, Yang tentu saja langsung mendapatkan tatapan ‘death glare’.

“Bisakah kau tak menyebutkan namanya lagi di hadapanku?” Ujar Ashley sedikit memberikan penekanan.

“Kenapa? Oh, Ayolah Ash… Meskipun kalian berdua mantan kekasih, Tapi tidak seharusnya juga kalian bermusuhan seperti ini kan?”

“Sudahlah, Dennis! Kau tak perlu menasehatiku… Kau bukan kakakku!! Lebih baik kau pergi saja sana!” Ashley mendorong tubuh Dennis dan terpaksa lelaki itu pun pergi dari tempat itu.

Tatapan Ashley langsung tertuju pada deretan meja panjang jurusan Peran, Dan ia hanya fokus pada satu orang lelaki berperawakan tinggi, dengan kulit putih dan hidung mancung.

“Kau sepertinya baik-baik saja, Josh…” Gumam Ashley seraya menoleh ke arah lain, Tapi di saat itu ia di kejutkan dengan Mimi yang sudah berdiri di sampingnya. “Mimi!! Sejak kapan kau ada di sini?” Kagetnya.

“Sejak kau bergumam sesuatu yang tak terlalu jelas…” Ungkap Mimi seakan sedikit menyindir gadis itu.

Gadis itu terdiam sesaat, “Apa maksudmu?” Ia tersenyum kecil namun sedikit di paksakan dan Mimi tahu akan hal itu.

“Jangan bertingkah seperti kau adalah gadis kuat, Ash… Pada kenyataannya kau tetap tak bisa berpaling dari lelaki itu kan?”

“STOP!! Don’t talkless again, Mimi!!” Dengan kesal Ashley beranjak dari duduknya dan kemudian meninggalkan ruang makan itu.

“Hey, Ash… Tunggu aku!” Mimi berlari mencoba mengejar gadis itu.

Tanpa mereka sadari, Joshua yang mendengar suara Ashley itu segera menoleh dan menangkap pemandangan yang menurutnya sedikit tidak mengenakan.

“Sebegitu cepatkan kau mendapatkan penggantiku, Ash?” Pikirnya.

  *         *           *

“Aiden, Wait me!!” Teriak Jaqlyne manja membuat Aiden berbalik padanya.

“Ada apa, Jaqlyne?” Tanyanya bingung. “Kelasku akan segera di mulai, Dan kau tahu hal itu kan?”

Jaqlyne langsung menatap Aiden kesal. “Kau benar-benar ingin menjauh dariku kan?”

“Apa?? Geezz…” Aiden menepuk jidatnya, “Apa yang salah denganmu, Jaqlyne? Aku hanya tidak ingin kelas pertamaku, Aku justru datang terlambat! Hanya itu… Lagipula, Bukankah kelasmu juga akan segera di mulai?” Tutur Aiden mencoba untuk tetap bersikap sabar.

“Aiden!! Kau memang benar-benar menyebalkan!!” Cecar Jaqlyne dan pergi begitu saja dengan wajah yang tertekuk.

“Ah… Dia itu benar-benar tidak mengerti…” Aiden menghela nafas seraya berbalik.

BRUK!!

“Aww..” Ringis seorang gadis dengan posisi terduduk di atas lantai dan beberapa buku yang di bawanya itu jatuh berantakan.

“Sorry, Miss…” Sesal Aiden seraya membantu gadis itu untuk memunguti buku-buku miliknya.

Gadis itu mengambil buku yang Aiden serahkan padanya. “Tidak apa-apa… Aku memang selalu ceroboh…” Ucap gadis itu sambil merapihkan pakaiannya yang sedikit berantakan.

Merasa tak asing lagi dengan suara itu, Aiden sedikit menundukkan wajahnya dan di saat ia melihat wajah gadis itu, Jujur saja ia sedikit tersentak kaget.

“Oh… Bukankah kau adalah gadis yang waktu itu?” Tebak Aiden membuatnya harus mendongakkan wajahnya menatap Aiden. “Ah… Ternyata benar. Aku minta maaf karena telah menabrakmu dua kali…” Sesal Aiden lagi.

Gadis itu terdiam, Menatap wajah tampan Aiden yang sedang tersenyum ramah padanya itu. Lalu perlahan, Ia pun membalas senyuman Aiden.

“Sudah aku bilang tidak apa-apa kan? Lagipula kau sudah meminta maaf padaku, Itu sudah cukup.” Sahut gadis itu santai.

Aiden menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu, Hanya bertingkah seperti salah tingkah ataupun dia grogi.

“Err…” Aiden melihat arah lain seraya melihat arah lain, Membuat gadis itu sedikit bingung di buatnya.

“Ada apa?”

“Err… Itu… Bisakah aku mengetahui namamu?” Tanya Aiden kemudian, Terlihat sedikit ragu.

Lagi-lagi gadis itu tersenyum tipis dan kemudian menjulurkan tangan kanannya sambil berkata, “Nadine… Namaku Nadine Lee…”

Dengan cepat Aiden menjabat tangan gadis bernama Nadine itu, “Aku Aiden…” Balasnya tak ingin terlewatkan.

Nadine lantas menoleh pada jam tangannya, “Ah! Kelasku akan masuk sebentar lagi. Sepertinya aku harus cepat…”

“Memangnya kau jurusan apa?” Tanya Aiden penasaran.

“Tari…”

Kedua mata Aiden langsung berbinar, “Aku juga… Bagaimana jika kita pergi bersama saja?” Tawarnya kemudian.

“Eh?” Nadine terdiam, Mencoba berfikir. “Ehm… Baiklah…”

“Ok, Let’s go…” Semangat Aiden seraya menarik tangan Nadine ntah sadar apa tidak, Tapi sepertinya sifat pemalunya itu seakan menghilang saat di hadapan Nadine, Padahal jelas-jelas mereka tak saling mengenal.

Sedangkan Nadine hanya dapat mengikuti langkah Aiden dari belakang, Bahkan ia sepertinya tak sadar jika wajahnya sudah mulai memerah saat ini.

  *         *           *

Michelle mengitari pandangannya ke seluruh penjuru ruangan kelas barunya itu. Ia menghela nafas sejenak, Lalu melepaskan earphone yang sejak tadi terpasang di kedua telinganya itu.

“Ah… Rasanya benar-benar berbeda jika tak ada Spencer di tempat ini…” Ucapnya pelan seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

Pandangannya kembali tertuju pada beberapa siswa baru yang sepertinya sudah memiliki teman baru, Tapi tidak dengannya yang duduk sendiri di pojok kelas dan tentunya sibuk dengan i-pod yang di pegangnya saat ini.

“Hai…” Sapa Amora menyadarkan Michelle dari lamunanya.

Michelle mendongakkan wajahnya lalu tersenyum tipis. “Oh, Hai. Amor… Kau baru datang…” Sahutnya pada gadis yang di kenalinya saat tadi malam itu.

“Sebut namaku Amora, Michelle… Kau tahu itu kan?” Sela Amora dengan cepat membuat Michelle terkekeh kecil.

“Tapi yang kudengar dari Jeremy namamu adalah Amor kan…” Canda Michelle.

“Oh, Ayolah… Jangan mengungkit hal memalukan itu lagi!” Amora segera duduk di samping Michelle.

Sedangkan Michelle kembali fokus pada i-pod-nya dan sesekali melirik ponselnya yang tak kunjung ada pesan masuk ataupun panggilan masuk satupun.

“Hah… Apa sekarang dia benar-benar lupa pada sahabat kecilnya ini…” Gumamnya tanpa sadar.

“Huh?” Amora menoleh pada Michelle. “Kau bicara apa tadi, Mich?”

“Yah?” Michelle menoleh padanya dengan tatapan bingung. “Bukan apa-apa… Lupakan saja!” Senyum Michelle.

“Hm, Kau yakin?”

“Yah…” Michelle mengangguk singkat dan di balas anggukan pula oleh Amora.

Michelle menghela nafas sejenak, Lalu tak berapa lama ponselnya bergetar cukup keras membuatnya langsung meraih ponselnya dan sebuah senyuman akhirnya terukir di wajah gadis itu.

Hai, Michelle! Bagaimana kelas barumu? Mengasyikan? Aku harap yah…

Aku pun begitu. Kelas tari benar-benar luar biasa…

Oh yah! Selesai kelasmu nanti temui aku di cafe. Ok?

Senyum Michelle semakin lebar membaca pesan masuk yang di kirimkan Spencer untuknya. Ntahlah, Rasanya hanya beberapa baris kalimat itu saja namun mampu membuat Michelle tersenyum seperti itu.

  *         *           *

Spencer memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya, Lalu seukir senyuman terbentuk di wajahnya.

“Mengirim pesan pada siapa? Kekasihmu yah??” Goda Henry seraya menyikunya.

“Hm?” Spencer menoleh padanya. “Bukan… Sahabat kecilku…”

“Benarkah?”

“Yah…” Spencer mengangguk singkat.

Henry sedikit memundurkannya mendekati Aiden yang sejak tadi diam dan duduk tepat di belakang mereka.

“Hei, Aiden. Apakah menurutmu wajar jika seorang sahabat harus sebahagia itu saat mengirim pesan pada sahabatnya?” Bisik Henry pada Aiden namun dapat terdengar jelas oleh Spencer.

“Aku rasa tidak wajar… Tapi itu bisa wajar jika orang itu menyukai sahabatnya…” Balas Aiden santai.

“Hey! Aku bisa mendengarnya…” Sela Spencer seraya menoleh pada kedua orang itu lalu menoyorkan kepala Henry.

“Ah…” Keluh Henry. “Jika kau tidak menyukainya lalu untuk apa kau bersikap seolah-olah gugup?!” Ucap Henry memojokkan sembari menggosok kepalanya kasar.

“Itu karena…”

“Akui sajalah, Spencer. Kau mungkin menaruh perasaan lebih pada sahabatmu itu…” Tambah Aiden semakin memojokkan Spencer.

“Hah, Sudahlah kalian diam saja!” Spencer kembali fokus pada seorang profesor yang ntah sedang menerangkan apa.

Henry dan Aiden malah saling memberikan tos sembari terkekeh kecil melihat sikap Spencer yang seakan tak dapat mengelak ledekan temannya itu lagi.

Sedangkan Spencer terdiam, Memikirkan sesuatu yang bahkan tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Pikirannya menerawang membayangkan wajah Michelle tanpa sadar.

Ia menggelengkan kepalanya cepat, Lalu menghela nafas panjang. “Aku tidak mungkin memiliki perasaan khusus pada Michelle… Lagipula dia kan sudah menjadi sahabat kecilku. Jadi bagaimana mungkin aku memiliki perasaan seperti itu padanya…” Pikir Spencer.

Terkadang kita memang tidak pernah menyadari sesuatu, Menyadari perasaan kita pada apa yang ada di sekeliling kita. Dan di saat kita mulai dapat merasakan hal itu, Namun pada kenyataannya mereka terlalu takut untuk mengakuinya. Dan mungkin inilah yang di rasakan Spencer dan Michelle saat ini.

   *        *           *

Bryan dan Marcus, Dua orang -sahabat sejak kecil itu dan memiliki impian yang sama untuk menjadi seorang entertainment-, Sejak tadi mereka nampak sibuk dengan kegiatannya sendiri.

Byan sibuk dengan sebuah buku tebal yang sedang di bacanya sedangkan Marcus terlihat asyik dengan PSP yang ada digenggamannya. “Argh!! Aku menang!!” Seru Marcus tiba-tiba.

Mendengar seruan Marcus yang tiba-tiba itu membuat Bryan tersontak karenanya. “Hah… Marcus, Mau sampai kapan kau bertingkah seperti anak kecil, Huh?!” Tekan Bryan merasa kesal.

“Hm? Kau bicara apa?” Bingung Marcus sambil tetap fokus pada PSP miliknya itu.

Perlahan Bryan menghela nafas panjang, “Marcus Cho…” Panggilnya.

Namun Marcus tak berbalik dan tak menoleh padanya. Masih asyik dengan apa yang sedang di mainkannya saat ini. “Hey, Marcus Cho!!” Tekan Bryan seraya merebut PSP itu.

“AH, Ada apa, Bryan?!” Kesal Marcus seakan tak dapat membentak Bryan yang notabene sudah seperti kakak baginya karena sikapnya yang begitu dewasa itu.

“Bisakah kau tidak berteriak sehisteris itu saat kau bermain games ini di hadapanku, Marcus?” Ucap Bryan sopan namun terdengar sedikit ada penekanan.

Marcus memutar matanya lalu merebut kembali PSP yang ada pada tangan Bryan. “Aku tidak bisa, Itu jawabanku…” Sahutnya santai kemudian kembali fokus pada PSPnya itu.

“Hah… Kau benar-benar menyebalkan! Aku heran, Kenapa aku dapat bertahan pada orang sepertimu!” Ejek Bryan seraya kembali membuka buku tebalnya itu lagi.

Mendengar hal itu, Marcus pun mem-pause gamesnya lalu menoleh pada Bryan. “Karena pada kenyataannya tidak ada orang yang bisa memahami ucapanmu selain aku!” Ucapnya percaya diri.

“Apa?” Bryan menatap Marcus tak percaya. “Jangan bercanda… Aku rasa masih banyak orang pintar di luar sana yang lebih layak untuk ku ajak bicara dan dapat memahami maksudku…”

“Oh, Kalau begitu coba saja kau cari…” Tantang Marcus santai.

Bryan kembali menghela nafas, “Untuk kesekian kalinya aku heran kenapa kau justru lebih pintar dariku, Padahal jelas-jelas IQ-ku lebih tinggi darimu!” Cecar Bryan namun hanya berniat bercanda, Tak lebih.

“Karena itulah aku lebih memahamimu daripada dirimu sendiri…” Jawab Marcus sekenanya.

Di saat kedua orang itu sedang asyik berada argumen yang sebenarnya tidak terlalu begitu penting, Seorang gadis yang tak lain adalah Cecille Kim datang mendekati mereka.

“Permisi, Maaf aku ingin menanyakan sesuatu…” Ucap Cecille ramah terlebih ia mengetahui jika kedua orang ini satu angkatan lebih tinggi darinya.

“Kami tidak ada waktu!” Jawab Marcus cuek.

Bryan segera memukul kepala Marcus dengan buku tebalnya itu membuat Marcus langsung meringis kesakitan seraya mengusap ubun-ubun kepalanya kasar.

“Biarkan saja dia, Kau ingin menanyakan apa?” Bryan beranjak dari duduknya dan berdiri tepat di hadapan Cecille.

“Err.. Itu, Bisakah kau memberitahuku di mana kelas Tari? Sepertinya aku tersesat..” Tanya Cecille sedikit ragu.

“Kelas Tari?” Ulang Bryan dan Cecille hanya mengangguk untuk menjawabnya. “Memangnya kau Kelas Tari dalam bidang apa? Di sini kelas Tari di bagi dua, Ada Kelas Tari Balet dan Tari Hip-Hop…” Jelasnya.

“Balet…” Jawab Cecille singkat.

“Ah, Kalau begitu kau tinggal menaiki lift ke lantai 3.. Lalu kau pilih jalan kanan menuju sebuah aula besar, Di samping aula itu adalah kelasmu…” Ucap Bryan kemudian menjelaskan.

“Ah, Kalau begitu terima kasih…” Cecille tersenyum tipis seraya mengangguk singkat menunjukkan rasa hormatnya pada seniornya itu.

Bryan terdiam, Cukup terpesona dengan senyuman gadis itu yang menurutnya memang cukup manis.

Setelah itu Cecille pun beranjak pergi dengan segera, Takut jika kelas pertamanya dia akan terlambat. Dan pastinya ia berpamitan dulu pada Bryan tak terkecuali pada Marcus yang meskipun acuh padanya.

“Kau kenapa?” Tanya Marcus saat melihat Bryan tersenyum kecil.

“Huh?” Bryan menoleh padanya. “Bukan apa-apa…” Bohongnya.

“Benarkah? Bukan karena junior kita satu itu kan?” Goda Marcus.

“Apa?” Bryan seakan tersentak dengan ucapan Marcus yang seakan dapat menebak apa yang terjadi padanya sekarang. “T-Tidak…” Ucapnya terbata.

“Hm, Ya sudahlah… Kalau begitu ayo kita ke kelas. Sebentar lagi kelas di mulai…” Ajak Marcus seraya meraih tas ranselnya kemudian berjalan mendahului Bryan.

Untuk sejenak Bryan terdiam, Menoleh kembali pada jalan yang tadi di lewati Cecille. “Dia cukup manis…” Batinnya.

“Bryan!!” Panggil Marcus dan menyadarkannya lalu ia pun bergegas beranjak.

   *        *           *

Jam kelas pertama usai, Alice memasangkan ear phone ke daun telinganya, Lalu mulai beranjak perlahan dari dalam kelas. Di saat ia sedang asyik bersenandung mengikuti alunan musik yang sejak tadi terputar dari I-podnya, Tiba-tiba tanpa di sengaja ia bertabrakan dengan seseorang.

“Ahk!!” Ringis Alice seraya memegang lengan atasnya. “Hey!! Berhenti!” Teriaknya cukup keras membuat beberapa orang menoleh padanya termasuk orang yang tadi menabraknya.

Lelaki berparas tampan dan berperawakan tinggi dengan ototnya yang terlihat begitu jelas dari balutan kemeja putih yang di kenakannya, Ia berbalik sambil tersenyum pada Alice.

“Ada apa?” Tanyanya ramah.

Untuk beberapa saat Alice terdiam, Cukup terpesona pada ketampanan, Ah tidak! Mungkin lebih tepat jika di sebut kesempurnaan lelaki yang ada di hadapannya itu.

“Hey, Nona!” Lelaki itu menjentikkan jarinya di hadapan Alice menyadarkan gadis itu akan sesuatu

“Ah, Itu! Kau tadi menabrakku, Seharusnya kau minta maaf!” Sahut Alice kemudian terlihat begitu ketus.

“Hm, Begitukah?” Lelaki itu menaikkan kedua alisnya, Lalu ia pun sedikit menundukkan kepalanya singkat. “I’m sorry, Miss…” Ucapnya lembut seraya mendongakkan wajahnya.

“Hei, Andrew. Cepatlah, Latihan basket akan segera di mulai…” Teriak U-Know yang memang ketua basket juga di Universitas Anvield Art.

“Ah, Yah. Tunggu sebentar!” Sahut Andrew santai seraya berbalik singkat.

Kemudian, Ia kembali menatap Alice sambil tersenyum tipis. “Kita bertemu lagi nanti. Miss Alice Park…” Ucapnya seraya mengerlingkan matanya lalu beranjak pergi meninggalkan Alice menyusul U-Know.

Sedangkan Alice terpaku terdiam menerima perlakuan Andrew yang seakan mampu membuat jantungnya seakan berdegup cepat.

“Bagaimana dia mengetahui… namaku?” Pikirnya.

Beberapa orang yang ada di tempat itu langsung bersorak-sorai melihat sikap Andrew pada Alice. Mereka seakan iri namun senang juga menggoda Alice yang masih terdiam terpaku.

Tapi di saat Alice masih sibuk dengan apa yang ada di pikirannya itu, Tentang bagaimana bisa seseorang yang tidak di kenalnya itu justru mengetahui namanya.

“Hei, Nona menyebalkan. Minggir!!” Suara ketus yang sudah sangat di hapal oleh Alice membuat pikiran gadis itu buyar dalam seketika dan di saat itu juga moodnya langsung berubah 180 derajat.

Alice menoleh pada lelaki yang ada di hadapannya itu, Siapa lagi jika bukan Mickey Park. Ia melipat kedua tangannya, Menatap tajam pada Mickey.

“Apa kau pikir jalanan koridor ini begitu sempit, Hingga kau tidak dapat mencari jalan lain?!” Tekan Alice dengan delikan yang tajam.

“Seharusnya kau berfikir, Nona menyebalkan! Jalanan koridor ini bukan hanya jalanan milikmu!!” Tegas Mickey.

“Oh, Yah? Setahuku jalanan koridor ini adalah jalan menuju kelasku. Lalu untuk apa kau harus melewatinya, Huh?!!” Balas Alice tak ingin kalah.

“Hey, Kau pikir Kelasku juga tidak melewati jalanan ini. Dasar bodoh!!” Dengan cepat Mickey menoyorkan kepala Alice.

Alice yang menerima perlakuan itu tentu saja tersentak dan sangat marah. “Kau!!”

“Apa?!” Tantang Mickey.

“Berani-beraninya orang sepertimu memperlakukan aku seperti itu!!!!” Teriak Alice yang tentu saja hal itu menjadi menarik perhatian orang untuk menoleh.

Lagi-lagi, Untuk kesekian kalinya Alice dan Mickey bertengkar hanya karena masalah kecil dan mungkin sesuatu yang bahkan tak perlu untuk di pertengkaran. Dan lebih parahnya lagi mereka melakukan itu di depan umum, Mereka sepertinya sudah benar-benar tak peduli dengan tatapan orang-orang yang menoleh pada mereka seakan mendapatkan tontonan menarik yang gratis.

“Ah… Aku harus memberitahu Xiah sepertinya…” Ucap Hero yang sudah mengetahui pertengkaran mereka berdua itu.

Terlebih lagi mereka berdua memang langsung terkenal karena pertengkaran mereka berdua. Padahal mereka berdua adalah saudara kembar, Benar-benar sesuatu yang tidak biasa mereka dapatkan di Anvield Art bukan?

   *        *           *

Sepanjang kelas pertamanya tadi Jaqlyen benar-benar tak fokus, Untung saja hari ini hanyalah perkenalan sesama teman dalam kelas saja. Jika saja hari pembelajaran sudah di mulai, Mungkin saat ini dia sudah terkena amukan Profesor Will yang tak lain adalah pengajar di Kelas Entertainment ini.

“Jaqlyne Shin!” Panggil seseorang membuat gadis itu menoleh dengan malas.

Orang yang tak lain adalah Dennis itu berjalan cepat menghampirinya, Ia tersenyum ramah padanya.

“Bagaimana hari pertamamu di sini? Kudengar kau masuk Jurusan Entertainment..” Tanya Dennis ramah.

“Tidak menarik…” Jawab Jaqlyne malas.

“Huh?” Dennis menaikkan sebelah alisnya.

“Tidak menarik karena tidak ada Aiden!” Sahut Jaqlyne cuek, Ia menghela nafas panjang. “Jika tahu akan seperti ini aku lebih baik memilih jurusan Tari saja. Dengan begitu aku akan terus bersama Aiden…”

Dennis tersenyum tipis mendengar gerutuan Juniornya itu, Ia merasa jika Jaqlyne seakan gambarannya saat dulu tapi ada yang sedikit yang berbeda, Ntahlah.

“Mungkin kau hanya belum terbiasa…” Ucap Dennis bijak.

“Tidak biasa karena memang tidak ada Aiden!” Tekan Jaqlyne seraya melirik Dennis lalu memilih duduk pada bangku panjang yang tersedia di taman.

Sesaat Aiden menatap terus menerus pada Jaqlyne, Membuat gadis itu tersadar dan mungkin sedikit risih dengan tatapannya itu.

“Ada apa? Apa ada yang salah dengan wajahku?!” Jaqlyne meraba wajahnya, panik.

“Tidak…” Dennis menggeleng singkat. “Aku hanya sedang memikirkan sesuatu… Tentang ucapanmu…” Sambungnya.

“Huh? Tentangku?” Bingung Jaqlyne.

“Yah, Tentangmu..” Sahut Dennis seraya mengangguk singkat lalu mulai duduk tepat di sampingnya. “Kupikir.. Kau sepertinya menyukai Aiden, Jaqy… Apalagi sejak awal kau hanya terus menyebut namanya…”

Kedua pipi Jaqlyne langsung memerah dalam seketika setelah mendengar ucapan Dennis tadi. “A-Aku tidak suka padanya… Aku… Aku dan dia hanya berteman…” Jawab Jaqlyne gugup.

“Benarkah? Tapi bukankah tadi kau bilang jika semuanya terasa membosankan jika tak ada Aiden. Jadi… Apalagi itu artinya selain kau memang menyukai Aiden…”

Jaqlyne terdiam, Mencerna dengan baik setiap perkataan yang Dennis lontarkan untuknya. Tapi ntah kenapa, Ia merasa begitu sesak. Tepat di dadanya, Serasa ada yang menikamnya dengan sebilah pisau yang dapat mengoyak perasaannya.

“Aku tidak mau berbicara lagi denganmu!!” Tiba-tiba Jaqlyne beranjak dari duduknya lalu melangkah pergi meninggalkan Dennis.

“Hei, Jaqlyne…” Panggil Dennis namun gadis itu tak menoleh padanya dan malah terus berjalan cepat, “Jaqlyne Shin…” Panggilnya lagi namun tetap tak di gubris.

   *        *           *

Max melirik-lirik ruang kelas lukis, Tapi sepertinya seseorang yang di carinya justru tak ada di tempat itu.

“Hei…” Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya, Membuatnya langsung menoleh dan tersenyum tipis. “Apa yang kau lakukan di sini, Max? Mencari Ashley?” Tebak orang itu yang tak lain adalah Clara Shin.

“Yah…” Max mengangguk singkat. “Tapi sepertinya dia tidak ada…”

“Baru saja tadi dia di panggil Profesor Bluebottle untuk datang menghadapnya. Mungkin ada hal penting…” Jelas Clara.

“Oh…” Lagi-lagi Max mengangguk. “Tapi, Untuk apa profesor memanggilnya? Tidak biasa sekali…”

Clara menggedikkan bahunya seraya menggeleng singkat, “Ntahlah…”

Max menatap pada Clara yang tetap diam di hadapannya sambil memainkan kuku-kukunya yang di cat berwarna kuning cerah.

“Kau ada waktu?” Tawar Max kemudian.

“Eh?”

“Bagaimana jika kita mengobrol di cafe anvield art? Sambil menemaniku untuk menunggu Ashley…” Ajak Max.

“Uhm, Baiklah…” Jawab Clara pada akhirnya.

Max tersenyum tipis, Lalu mereka pun mulai berjalan melewati koridor yang cukup sepi. Karena memang di gedung bagian kelas jurusan lukis memang cukup sepi, Katanya para ‘pelukis’ itu butuh tempat yang tenang.

“Hei, Clara. Bagaimana dengan kabar pujaan hatimu?” Celetuk Max tiba-tiba saat mereka dalam perjalanan menuju cafe.

“Apa?!” Clara tersentak, Ntah sadar atau tidak. “Err.. Maksudku, Kenapa kau bicara seperti itu…” Ralatnya membuat Max terkekeh kecil.

“Ahahahaha… Hanya ingin mengetahui reaksimu. Ternyata reaksimu benar-benar spontan jika sudah menyangkut lelaki itu…” Sindir Max dengan santai.

Clara menghela nafas seraya mendelik Max kesal. “Kau menyebalkan! Sama halnya seperti lelaki itu, Jadi aku rasa kau tahu itu!” Sahut Clara kemudian.

“Dia menyebalkan lalu kenapa kau harus menyukainya juga?!” Ejek Max yang tentu saja mendapatkan tatapan death glare dari Clara.

“Max Shim!!!” Teriak Clara kesal lalu mulai mengejar Max yang sudah terlebih dulu berlari mendahuluinya.

Dari kejauhan nampak Casey yang memperhatikan Clara dan Max sejak tadi, Sedikit senyum kecut terlihat jelas di wajahnya. Lelaki yang berdiri di sampingnya yang tak lain adalah Vincent menoleh pada kedua orang itu.

“Lagi-lagi kau memperhatikannya…” Celetuk Vincent.

Casey menoleh padanya lalu menggeleng singkat sambil tersenyum yang terkesan sedikit di paksakan. “Aku tidak memperhatikannya…”

“Jelas matamu memandang lekat pada Clara Shin!” Tambah Janice yang sejak tadi ada di samping Vincent.

“Oh, Ayolah Casey… Kau tak seharusnya terus memendam perasaan itu. Setidaknya kau harus mengutarakannya…” Ujar Vincent seakan memberikan semangat.

“Kalian ini kenapa, Aku tidak mengerti ucapan kalian berdua…” Elak Casey. “Hey, Apa kalian melihat, Joshua?” Ucapnya kemudian mencoba mengganti topik pembicaraan di antara mereka.

“Aku paling tidak suka dengan orang yang selalu menghindar dari kenyataan dan terutama orang itu yang suka mengganti topik pembicaraan itu!” Sindir Janice.

Casey terdiam, Sesaat ia berfikir kemudian ia menghela nafas panjang. “Baiklah. Ku akui aku memang memperhatikannya sejak tadi…” Jawabnya kemudian.

“Lalu? Kenapa kau tidak mencoba mendekatinya saja?” Tanya Vincent menuntut.

“Aku tidak bisa!”

“Kenapa?”

“Karena… Dia dan Max sudah berpacaran. Itu yang kudengar dari beberapa orang, Kalian bisa lihat sendiri kan seberapa mesranya mereka berdua…” Ucap Casey dengan putus asa.

Janice dan Vincent mengangguk paham, Sebagai sepasang kekasih yang saling mengerti satu sama lain. Mereka sangat benar-benar paham dengan apa yang di rasakan Casey saat ini.

“Mungkin aku memang sudah terlambat untuk mengatakan semua itu…” Lanjut Casey dan berlalu pergi.

To Be Continued…

Note : Annyeong Haseyo Readers… ^^

Pertama-tama aku mau minta maaf dulu karena publish neh ff terlalu lama dan gak sesuai janji… *bow*

Ada beberapa kendala yang bikin aku gak bisa publish neh ff, Tapi mudah2an untuk kedepannya enggak lagi… ^^ Hehehehehehe Semoga ff ini memuaskan untuk semua readers yang masih mau baca ataupun nunggu ffnya… Hohohoho

Iklan

20 thoughts on “When You Believe (Chapter.2)

  1. micky alice, sodara kembar tpi ribut mulu kkkk^^
    awawaw seperti.a aiden naksir nadine pda pandangan pertama xD ❤ dan jaqlyne juga kaya.a naksir aiden tpi g mau ngaku #plaak xD
    imey curiga eon bkalan ada cinta segitiga d antara mereka hehe
    onnie ashley mimi moment.a kurang banyak, next part moment mereka banyakin ya ya ya hehe

    daebak lanjut eon 😀

  2. Ommona…..bnar2 berbeda image si jaqlyne…knapa jd anggun gtuuuu…pdhalkan sbenarnay gk gtu…#plaak#

    Aigooo..dennis-ssi,kau menghujam jantungkyu…#dies#

    Aisshhh..jd shy-sh cat gtu bcanya….XDDDD…

  3. eonni ah…
    daebakkkkk…
    memang eonn jagonya buat ff yg cast nya bejibun.
    bener2 dah si twins itu berantem terus>…< hooooaaa plakkk
    banyakin alice.micky alice.andrew moment ya eonn 😉
    update chappie depan kapan eonn? hehehe 😀

  4. wuah kasian xiah . . .
    Yg sbar z ya.yg kembar hrusnya akur,ini mlah brantem trz.cie spanser m Michelle saling suka tp gk nyadar.it jg jaqlyn ska aiden tp aiden kynya suka nadine wuah cinta segitiga.dtunggu next part nya

  5. wah..
    lge seru bca, eh ud TBC aja nech..
    krg pnjang onnie..#plak

    iy nech onnie..
    aq ud nungguin bgd..

    aiden ktemu nadine jdx lucu..
    kikuk n malu2 gtu..
    unyuk2 dech..

    byk cast yg mci bngung tuh cpa..
    tr d.apalin lge..

    fighting onnie..

  6. hmmm, mulai menarik..
    msg2 menyembunyikan rasa suka’y..
    tp tetep aja gak bs ngebayangin yeoja2’y….
    d’tunggu next part.. 😀

  7. yey…!! Terusannya yah??
    Aku lg puasa bc ff (?). Jd pas bc ini, castny bnyk, aku bacany pelan2. Hehehe
    Wah… Konfliknya ud mulai nongil nih… Ayo ayo… Tar jdinya gmn2 aja… Hehehe

  8. cast na banyak ya..
    pake nama barat mua, jd masi bingung..
    klo yg cow masi tau laa, tp yg cew aku cm tau nadine doank.. hahaa..
    lucu liad aiden ama nadine..
    gmana perkembangan selanjutnya tuh??
    ditunggu kelanjutannya ya.. ^^

  9. aigooo….twin park berantem mulu><
    cuit…cuit….andrew tebar pesona^,^
    konflikny blm keliatan
    next part blm di publishkah??

  10. wah ceritannya bagus, tapi membinggungkan orangnya, soalanya belum hafal nama inggrisnya.
    ngomong2 peran ceweknya di beri keterangan donk itu artis siapa aja?
    dan satu lagi, min kok bisa tau nama inggrisnya artis2 itu dari mana?
    segara dilanjut ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s