If This Was A Movie (Chapter.1)

If This Was A Movie

Title                 : If This Was A Movie

Author           : NtaKyung

Art Poster    : NtaKyung

Casts                : Lee Donghae, Shim Miyoung and OC

Length           : Series [On Writing]

Genre              : AU(Alternate Universe), Angst, Drama, Romance

Rated               : PG-15

Disclaimer  : Segala hal yang ada dalam FF ini, Murni imajinasi saya! So, Jangan Copy-Paste or BASHING!!

©If This Was A Movie©

Dengan langkah terburu-buru, Miyoung berlari secepat mungkin menuju café yang jaraknya tak terlalu jauh dari tempatnya bekerja. Kedua telapak tangannya berulang kali ia gosokkan secara bersamaan, berusaha meminimalisir rasa dingin yang menyerang sekujur tubuhnya ini.

Langkahnya terhenti ketika ia telah berada tepat di hadapan café tersebut. Ia tersenyum lebar saat melihat sesosok pria yang sangat di cintainya itu. Buru-buru ia merapihkan penampilannya sambil melirik sekilas pantulan dirinya dalam jendela café itu.

Dan setelah menghela nafas panjang untuk mengatur nafasnya agar kembali normal, gadis ini pun melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam café tersebut, bersiap menemui sang kekasihnya.

“Wooyoung-ah…” Miyoung menyapa pria yang sedari tadi duduk di sudut ruangan café itu. Ia mengecup singkat pipi pria itu dan pria bernama lengkap Jang Wooyoung itu hanya tersenyum kecil. “Maaf harus membuatmu menunggu lama…”

Wooyoung mengangguk kecil sambil tetap tersenyum. “Tidak apa-apa. Sekarang duduklah… ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.” Ia menarik lembut tangan Miyoung, menyuruh gadis ini untuk duduk di hadapannya.

“Memangnya… hal apa yang ingin kau bicarakan denganku?” Tanya Miyoung penasaran.

Pria itu tak langsung menjawab dan hanya merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam sakunya dan menyodorkan pada Miyoung. Gadis ini tentu saja terkesiap melihat kotak kecil itu, jantungnya berdegup sangat kencang dan ia tak dapat menyembunyikan perasaan senangnya saat ini.

“Err… Wooyoung-ah. Apa ini?” Miyoung bertanya dengan nada senang, ia benar-benar tak dapat mengontrol dirinya sendiri sekarang.

Wooyoung lantas membuka kotak kecil itu dan sungguh, jantung Miyoung saat ini berdegup dua kali lebih cepat hingga membuat gadis ini merasa tak mampu menunggu lagi. Tetapi, ketika dia melihat isi dalam kotak kecil ini, seluruh perasaan itu lenyap dalam seketika dan di tergantikan dengan perasaan heran. “Ini…” Miyoung langsung menatap Wooyoung.

“Yah…” Wooyoung mengangguk singkat. “Ini adalah cincin yang kau berikan padaku beberapa bulan yang lalu, Miyoung-ah.” Jelasnya. Lalu ia menarik salah satu tangan Miyoung, meletakkan cincin itu di tangan gadis itu. “Dan sekarang aku mengembalikannya…”

“Tapi kenapa?” Bingung Miyoung, tak mengerti dengan maksud kekasihnya ini.

“Aku ingin kita putus, Miyoung-ah…” Sahut Wooyoung dengan tenang.

Deg!

Bagai di sambar petir di siang bolong, Miyoung tertegun mendengar ucapan kekasihnya itu. Ada perasaan yang menyesakkan dalam hatinya sekarang, jantungnya seolah berhenti berdetak dan seakan ada benda tajam yang menusuk tepat di sana hingga membuat detak jantungnya berhenti.

“A-apa?” Gadis ini berbicara dengan nafas yang tercekat di kerongkongannya.

“Mari kita akhiri hubungan ini, Miyoung-ah. Selama ini.. Aku telah berusaha keras untuk tetap bertahan denganmu. Tapi, Apakah kau  tidak sadar jika selama aku bersamamu… Aku tak pernah merasakan kebahagian sedikitpun?”

Miyoung terdiam mendengar pengakuan Wooyoung, kedua matanya langsung memerah namun tak sedikitpun air mata yang turun dari sudut kedua matanya. “Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?” Pertanyaan itu terlontar dari mulutnya.

“Karena aku kasihan padamu.”

“Apa?!”

Wooyoung menghela nafas panjang, kemudian ia menggerakkan tangannya, menggenggam erat tangan Miyoung. “Miyoung-ah… Kumohon, mengertilah posisiku, Hm?” Suaranya terdengar membujuk saat ini, ia memasang wajah se-memelas mungkin, berharap jika gadis itu akan segera meng-iya-kan permintaannya itu.

Gadis itu menghempaskan tangannya dengan kasar, tatapan matanya nampak dingin seakan tak peduli, namun ada gurat kesedihan yang terlihat jelas di wajahnya. “Baiklah… Mulai saat ini, Hubungan di antara kita telah berakhir. Apakah kau puas?”

Wooyoung berusaha menyembunyikkan senyumnya di balik ekspresinya yang terlihat di buat-buat itu. “Terima kasih, Miyoung-ah…” Ujarnya berpura-pura tulus.

***

Miyoung berjalan gontai menuju kantornya. Sejujurnya, ia benar-benar ingin menangis sekarang. Namun, ia berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri, bersikap seolah-olah ia dapat kuat dan tegar dalam menghadapi semua ini.

“Miyoung-ssi… kau di panggil Kim Sajangnim ke ruangannya!” Salah seorang rekan kerjanya itu menghampirinya dan memberitahu jika gadis ini di panggil atasannya untuk segera menghadap.

Gadis ini mengangguk tanpa tersenyum, lalu dengan segera gadis ini pun bergegas pergi menuju ruangan atasannya itu.

Di ruangan itu, pria paruh baya itu terlihat duduk dengan tenang. Ia mempersilahkannya masuk ketika ia mengetuk pintu dan tepat di saat Miyoung baru saja menduduki salah satu kursi yang berada di hadapannya, pria paruh baya itu menyodorkan sebuah amplop ke hadapannya.

“Miyoung-ssi.. dengan sangat menyesal, kami harus memecatmu dari kantor ini.” Ujarnya dengan nada simpati yang jelas terdengar di buat-buat.

Tak ada sahutan dari gadis itu. Ia hanya diam, menatap amplop di hadapannya itu dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca. Bibirnya mengatup rapat dan getaran kecil nampak di sana.

“Baiklah.” Dan hanya kata-kata itu yang mampu terlontar dari mulut Miyoung.

Gadis ini lantas meraih amplop itu kemudian membungkuk singkat pada pria paruh baya itu sebelum akhirnya ia berbalik dan keluar dari dalam ruangan itu.

Tangannya meremas kuat amplop dalam genggamannya itu. Langkahnya semakin cepat dan terus semakin cepat, dan ketika gadis ini telah berada tepat di hadapan meja kerjanya. Ia buru-buru memasukkan barang-barang miliknya ke dalam kardus kosong yang telah di siapkannya itu.

Tak butuh waktu lama untuknya mengosongkan meja kerjanya itu. Tanpa berpamitan kepada siapapun, Miyoung langsung meninggalkan gedung kantornya itu. Tempat di mana selama ini ia bekerja selama tiga tahun hanyalah tinggal menjadi kenangan.

Dan ketika gadis ini benar-benar telah berada cukup jauh dari gedung kantornya itu. Pertahanan gadis ini pun runtuh, sambil memeluk kardus berisi barang-barangnya yang tak terlalu banyak itu, Miyoung berjongkok di trotoar jalan yang sepi itu.

Tangisnya pecah dalam seketika dan ribuan butiran-butiran air mata itu langsung lolos dari kedua sudut matanya, membasahi wajahnya. Salah satu tangannya meremas kuat dadanya yang ntah kenapa terasa menyesakkan.

“Kenapa kau lakukan semua ini padaku, Wooyoung-ah?! Kenapa kalian melakukan aku seperti barang tak berharga?!” Gadis ini menjerit putus asa dan tangisnya pun semakin menjadi.

Wajah gadis ini tertunduk dalam dan tubuhnya pun bergetar hebat. Perasaan sedih, kecewa dan kesal bercampur menjadi satu. Membuat dada Miyoung semakin terasa sesak di buatnya.

Sementara itu, di sisi lain. Nampak sebuah mobil sedan yang berjalan melewati Miyoung dengan gerakan yang sangat perlahan.

Tanpa di sadari gadis ini, sang penumpang yang duduk di jok belakang itu, memperhatikannya dengan tatapan bingung sekaligus iba. Pria ini tak mampu mengalihkan tatapannya sedikitpun dari Miyoung, meski sopirnya telah melajukan mobilnya menjauhi sosok gadis itu.

“Dia terlihat sangat menyedihkan… kasihan.” Gumamnya dan setelah itu pun ia berbalik, tak lagi menatap sang gadis yang tengah menangis terisak itu.

***

Seminggu telah berlalu semenjak hari itu. Miyoung tak pernah beranjak dari rumahnya sekalipun. Gadis ini selalu mengurung dirinya sendiri di rumah, menikmati makanan seadanya dan tak ada kegiatan apapun yang ia lakukan selain berdiam diri dalam rumahnya.

Hingga hari itu tiba, sebuah undangan pernikahan yang di kirimkan salah satu temannya ketika SMA dulu membuatnya sangat terkejut, bukan karena terkejut akan berita pernikahan itu, tetapi lebih kepada saat ia mengetahui bahwa sang pengantin pria dari temannya ini adalah mantan kekasihnya sendiri!! Jang Wooyoung.

***

Kini, Miyoung telah berdiri tepat dihadapan sebuah gedung pernikahan yang telah di sewa untuk acara pernikahan temannya itu. Salah satu tangannya memegang kartu undangan dari temannya itu dan tatapannya tetap menatap lurus gedung itu.

Ia menghela nafas sejenak, berusaha menenangkan dirinya sendiri. “Kau pasti bisa melakukannya, Shim Miyoung…” Gumamnya dalam hati. “Kau cukup mengucapkan kata ‘selamat’ padanya, lalu tersenyum padanya dan setelah itu kau bisa pergi…”

Miyoung mengangguk mantap, membuka kedua matanya yang sempat terpejam tadi, kemudian ia pun memberanikan dirinya untuk melangkahkan kakinya. Di rasakannya kedua kakinya tengah bergetar hebat sekarang, ntah karena dia gugup atau justru takut? Ntahlah, ia pun tak mengerti.

Bruk!

Tanpa di sengaja bahu Miyoung saling bersenggolan dengan bahu seorang pria yang tengah sibuk bercakap-cakap dengan salah satu rekannya itu.

“Maafkan aku…” Sesalnya seraya mengangguk singkat padanya dan berbalik kembali, memasuki gedung pernikahan itu.

Sementara Miyoung masuk ke dalam gedung itu, sang pria nampak terus memperhatikannya. Ia seolah merasa tak asing lagi dengan wajah gadis itu, tapi ntah kenapa ia tak bisa mengingatnya.

“Ada apa. Donghae-ya?” Tanya rekannya itu, ia mengikuti arah pandangan Donghae dan pria ini pun langsung bersiul menggoda. “Woah… kau memang paling hebat dalam melirik wanita, Lee Donghae!” Candanya.

Mendengar hal itu, pria bernama Lee Donghae itu lantas tersadar dari lamunannya dan terkekeh kecil. Ia menggelengkan kepalanya lalu menoleh pada rekannya itu, “Tidak… aku hanya merasa pernah melihat gadis itu di suatu tempat… tapi ntahlah…” Sahutnya.

“Ha ha ha, mangkannya lain kali kau minta nomor ponselnya!” Goda pria itu lagi dan Donghae hanya menanggapinya dengan tawa kecil.

***

Miyoung berjalan mendekati sang pengantin wanita yang nampak berseri-seri, ia jelas sangat bahagia saat ini karena ia telah menikah dengan seseorang yang sangat di cintainya. Namun, hal itu jelas tak terlihat sama sekali di wajah sang pengantin pria yang justru terlihat sangat tegang.

“Eun Ji-ya… Selamat atas pernikahanmu.” Ia memeluk temannya itu dengan erat lalu tersenyum tulus padanya. “Dan kau terlihat begitu sangat cantik hari ini…”

Sang pengantin wanita tersipu malu karena mendengar pujian langsung dari temannya itu. Ia menutupi kedua pipinya yang bersemu merah dengan kedua tangannya, tak menyadari ekspresi suaminya yang sejak tadi hanya tetap diam terpaku dengan rahang yang mengeras dan kedua mata yang membulat.

Sementara Miyoung yang menyadari hal itu hanya melirik sekilas kepadanya, Lalu tersenyum tipis padanya, “Kau beruntung mendapatkannya…” Ujar Miyoung terdengar seperti sebuah sindiran untuk pria yang tak lain adalah Jang Wooyoung itu.

Wooyoung hanya dapat tersenyum kaku ketika mendengar ucapannya itu. Ia tak menjawab, tapi hanya mengangguk dengan singkat dan segera mengalihkan tatapannya ke arah lain, berusaha untuk menghindari tatapan mata Miyoung yang merupakan mantannya dulu.

***

Hari ini, Miyoung memutuskan untuk mengindap di rumah Ibunya karena acara yang di adakan temannya itu berada di kota Busan yang tak lain adalah kota kelahiran orang tuanya.

Lagipula, ia berfikir jika mungkin ia bisa menenangkan dirinya dengan tinggal beberapa hari di daerah pedesaan yang cukup tenang ini. Namun, semua keinginannya itu pupus sudah ketika sang Ibu kembali menceramahinya dengan segala hal yang sesungguhnya tak ingin Miyoung dengar ataupun bahas saat ini.

“Apa yang bisa kau lakukan?! Setelah kau putus dengan kekasihmu itu, Kau bahkan di pecat dari kantormu! Dan sekarang sahabatmu sendiri sudah menikah. Apakah kau tidak malu dengan hal itu, Shim Miyoung?!” Pekikan Ny.Shim terdengar menggema ke seluruh penjuru ruangan rumah.

Miyoung yang sejak tadi tengah menikmati makan malamnya, langsung saja membanting keras sendoknya ke atas meja kemudian segera beranjak dari duduknya.

“Aku sudah selesai makan, permisi.” Ia menganggukkan kepalanya, lalu berbalik meninggalkan ruang makan tersebut.

Ny.Shim jelas terkejut dengan respon Miyoung yang di anggapnya sangat tidak sopan, ia segera ikut beranjak dari duduknya, berjalan dengan geram menuju kamar anak gadis satu-satunya itu.

“Ya! Shim Miyoung! Keluar dari kamarmu!! Eomma belum selesai berbicara denganmu!!” Teriak Ny.Shim sembari menggedor-gedor pintu kamarnya.

Cklek!

Pintu terbuka dan Ny.Shim sedikit terkesiap karena hal yang mendadak itu, tatapannya geram dan hanya tertuju untuk Miyoung. “Apakah ini yang kau pelajari selama di Seoul?! Apakah sopan santu yang sudah kuajarkan padamu telah kau lupakan, Shim Miyoung?!”

Miyoung tak menjawab pertanyaannya, ia hanya segera mengenakan jaket tebalnya dan meraih tasnya lalu beranjak keluar kamarnya. Ny.Shim menatapnya dengan bingung.

“Mau pergi kemana kau?! Bukankah Eomma sedang berbicara denganmu sekarang?!”

“Aku akan kembali ke Seoul malam ini juga.” Sahut Miyoung dengan raut wajahnya yang datar.

“Apa?!” Ny.Shim tersentak, “Aah… jadi kau tidak ingin Eomma ceramahi, eoh?! Apakah sekarang kau tidak menghargai Eomma-mu ini, eoh?!” Ny.Shim berteriak dengan keras dan itu membuat Miyoung tak mampu menahan kekesalannya lagi.

“Yah… aku memang sudah tidak tahan mendengar ceramahanmu lagi!! Dan satu-satunya alasanku tinggal di Seoul hanya karena tidak ingin mendengarkan ceramahanmu setiap harinya! Kau selalu saja membanding-bandingan diriku dengan anak orang lain! Kau tak pernah mengerti akan perasaanku!! Kau hanya mementingkan perasaanmu sendiri, apakah kau puas mendengar semua ini, Eomma?!” Miyoung balas berteriak.

Ny.Shim tak mampu berkata-kata, terlalu kaget karena rentetan ucapan yang baru saja terlontar dari mulut anak gadisnya itu.

Miyoung lantas menggedikkan bahunya, ia berjalan cepat melewati Ibunya dan bergegas pergi dari tempat itu tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi. Dan tanpa terasa, air matapun mulai mengalir deras dari sudut matanya.

***

Sembari duduk di salah satu kursi yang berada di pojok ruangan café ini, Miyoung terlihat sedang menikmati cappuccino yang sempat di pesannya tadi. Kedua tangannya memeluk tubuhnya yang terasa kedinginan.

Sang pelayan café itu berjalan melewatinya, menempelkan sebuah kertas pengumuman yang memberitahukan jika café ini sedang membutuhkan pekerja baju.

“Kurasa… tidak ada salahnya juga mencoba, toh… ini adalah pekerjaan yang cukup layak.” Pikir Miyoung seraya beranjak dari duduknya dan mendekati kertas pengumuman itu.

Ia membaca sekilas kertas pengumuman itu sebelum akhirnya ia mengangguk singkat dan yakin jika ia akan mencoba pekerjaan ini.

Bruk!

Miyoung tak sengaja bertabrakan dengan seorang pria ketika ia berbalik ke belakang. Dan secara otomatis, kopi panas yang di bawah pria itu pun langsung mengenai tubuh Miyoung meski tak seluruhnya mengenai tubuh gadis itu. “Ahk!” Miyoung meringis kepanasan, ia menepuk-nepuk bagian dadanya yang sedikit terkena tumpahan kopi itu.

“Maafkan aku nona, Ini benar-benar tidak di sengaja… aku tak melihatmu tadi.” Sesal pria yang telah bertabrakan dengan Miyoung itu. Ia lantas merogoh saku celananya dan menyodorkan sebuah sapu tangan pada Miyoung.

Miyoung tak meliriknya, tak juga meraih sapu tangan yang di berikan lelaki itu. “Lupakan saja!” Ucapnya dengan ketus, lalu ia pun bergegas pergi keluar dari café tersebut.

Namun, rupanya sang pria merasa tak enak hati dan segera saja berlari kecil mengikutinya ke luar café, di hadangnya langkah Miyoung dengan berdiri di hadapannya.

“Ini kartu namaku, Kau bisa menghubungiku jika ada sesuatu yang buruk terjadi padamu…”

“Sudah kukatakan lupakan saja!” Miyoung menepis tangannya yang tengah memegang kartu namanya itu.

“Tapi kau baru saja terkena siraman kopi panas! Kulitmu bisa saja melepuh dan aku tidak mau menjadi pria tak bertanggung jawab karena membuatmu terluka, Nona.”

“Ck! Kau terlalu berlebihan tuan!” Gadis itu melenggang pergi begitu saja, tak peduli dengan apa yang di katakan lelaki itu.

“Lee Donghae!! Itu adalah namaku. Ingatlah itu, Nona!” Teriaknya dengan cukup keras, tapi tak sedikitpun Miyoung menoleh ataupun menggubrisnya.

Pria bernama Donghae itu hanya memiringkan kepalanya ke samping, memandang kartu nama miliknya yang tak di terima gadis itu. Ia menghela nafas panjang. “Hah…”

Donghae menggedikkan kepalanya, menoleh arah lain sebelum akhirnya berbalik hendak masuk kembali ke dalam café tersebut. Tetapi sesaat kemudian, ia kembali menoleh dengan keningnya yang mengerut.

“Tapi… kurasa… aku seperti pernah melihat gadis itu. Tapi di mana yah?” Gumamnya penasaran. Dan sebesit ingatan pun langsung terlintas dalam benaknya.

***

Ia terdiam di sebuah sudut yang paling gelap, meringkuk sambil memeluk kedua kakinya erat-erat. Air mata terus mengalir membasahi kedua pipinya dan bibirnya bergetar hebat, rambutnya di biarkan tergerai berantakan. Tak ada satupun orang yang peduli terhadapnya, mereka dengan acuh membiarkan gadis itu menangis terisak sendiri di sudut yang pali gelap itu, sebuah tempat yang hanya di pandang sebelah mata oleh sebagian orang.

Namun, hal itu seakan tak berlaku bagi sesosok lelaki yang tengah berjalan menghampiri gadis tersebut. Tak peduli dengan genangan air kotor yang dapat mengotori sepatu mahalnya, ia hanya terus berjalan mendekati gadis itu dan setelah berada di hadapannya, tanpa merasa jijik atau sungkan sedikitpun, lelaki itu mengulurkan tangannya ke hadapan gadis itu.

“Ayo ikut denganku…” Suara lembut lelaki itu terdengar jelas di telinga sang gadis. Perlahan, ia mendongakkan wajahnya dan dalam jangka waktu yang lama ia hanya tetap terdiam sambil menatap wajah lelaki itu.

Tak mendapat sahutan darinya, lelaki itu lantas berjongkok di hadapannya. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman hangat yang terlihat tulus. Kemudian, tangan kanannya pun menyentuh rambut gadis itu, membelainya dengan lembut. Tatapannya terlihat sangat menenangkan, membuat sang gadis hanya dapat terpaku di hadapannya.

“Kau tidak seharusnya berada di sini… Ayo ikut denganku, Miyoung-ah…”

Dan ntah di sadarinya atau tidak, gadis itu perlahan mengangguk singkat pada lelaki itu. Dan tak butuh waktu lama untuk lelaki itu segera menggendong tubuh gadis itu, membawanya untuk segera pergi dari tempat yang mengerikan itu, menuju sebuah tempat yang lebih layak untuk di tempati gadis itu. Sebuah tempat di mana gadis itu akan merasa di butuhkan dan menerima kasih sayang yang tulus dari setiap orang.

***

Kedua mata Miyoung terbuka dengan segera dan gadis itu langsung mendesah berat ketika sadar jika dirinya baru saja mengalami mimpi yang sama untuk yang kesekian kalinya. Tangannya mengusap pelan wajahnya dan kemudian dengan jari-jari lentiknya ia mengibaskan rambutnya ke belakang, memperlihatkan raut wajahnya yang terlihat lelah sekaligus kacau.

Ingatan akan mimpi tadi kembali terlintas dalam benaknya dan segurat kekecewaan nampak sangat jelas di wajahnya. Ia tersenyum kecut, seakan mengejek dirinya sendiri. “Ck! Memangnya berapa umurmu? Masih mengharapkan pangeran datang menjemputmu, eh? Benar-benar sesuatu yang mustahil!” Ia berucap dengan nada mengejek, lebih tertuju untuk dirinya sendiri.

Ia pun segera bangkit dari ranjangnya, dengan mengikat rambut seadanya, gadis ini pun berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya itu. Setelah berada dalam kamar mandi, di lihatnya pantulan dirinya dalam cermin. Ia memegang kedua pipinya, Ia sadar jika ia telah kehilangan berat badannya akibat masalah yang di alaminya sejak beberapa bulan yang lalu.

“Hah… benar-benar terlihat mengenaskan.” Gumamnya pelan, ia kembali mengamati dirinya dalam pantulan cermin dan ia mendapati dua lingkaran hitam yang terlihat sangat jelas di bawah matanya serta pipinya yang terlihat tirus dan rambutnya yang sangat berantakan. Ia benar-benar terlihat menyedihkan.

Setelah itu ia mulai menyalakan shower yang ada di dekatnya dan membuka satu per-satu pakaian yang di kenakannya itu sambil berujar, “Well, Ini bukanlah hal terburuk yang pernah kau alami, Shim Miyoung… dan setidaknya kau masih terlihat seperti manusia normal.”

***

Drt… Drt… Drt…

Dengan malas, Miyoung meraih ponselnya dan menatap cukup lama layar ponselnya. Kedua bola matanya berputar dan ia menghela nafas panjang. Itu adalah telepon dari Eunji dan jujur saja, Ia masih tidak bisa mengobrol dengan -sang pengantin baru itu-.

Klik!

“Youngie-ya!” Jeritan Eunji yang memanggil nama kecilnya langsung menusuk pendengaran Miyoung. “Bagaimana kabarmu, sayang? Akhir-akhir ini aku sulit sekali menghubungimu…”

Miyoung berusaha tersenyum meski ia tahu Eun Ji takkan bisa melihatnya. “Aku sibuk, Eunji-ya. Ada banyak hal yang harus aku kerjakan…” Bohongnya.

“Bohong!” Eunji berucap manja namun ada sedikit ketegasan dalam nadanya. “Beberapa hari yang lalu, tepat saat aku pulang berbulan madu… Aku berusaha menelepon ponselmu tapi kau tidak mengangkatnya juga dan saat aku menelepon ke kantormu mereka bilang…” Ia terdiam sejenak, Lalu kembali melanjutkan perkataannya yang menggantung. “Kau sudah di pecat… Apa itu benar?” Suaranya berubah menjadi prihatin.

Well… Tidak ada yang perlu aku sembunyikan darimu. Dan jelas jawabannya adalah yah…” Sahutnya dengan malas. “Tapi kau tenang saja… Aku sudah mendapatkan pekerjaan yang baru.”

“Benarkah? Dimana itu?” Tanyanya dengan antusias.

Miyoung meringis pelan, ia merutuki dirinya sendiri. Seharusnya ia tidak mengatakan hal itu kepada sahabatnya dan ia yakin jika Eunji pasti akan berteriak histeris saat mengetahui tempat di mana ia bekerja sekarang.

“Aku menjadi seorang pelayan di café yang  berada tak jauh dari apartementku.”

“APA? Menjadi pelayan café katamu?! Apakah tidak ada pekerjaan yang lebih layak dari itu?!”

See? Apa yang di perkirakan Miyoung benar-benar terjadi kan? Yah, Walaupun ia tak peduli dengan apa yang di katakan Eunji, tapi ia benar-benar malas jika harus mendengar ceramahan sahabatnya itu. Ia sudah terlalu sering mendapatkan ceramahan dari Ibunya saat ia pulang ke rumah beberapa minggu yang lalu dan sekarang haruskah ia mendapatkan ceramahan dari Eunji juga? Oh… Itu jelas jawabannya adalah tidak!

“Apa yang salah dengan bekerja sebagai seorang pelayan café? Bukankah itu lebih baik? Aku tidak mungkin harus menjadi wanita penghibur demi mencari uang untuk melunasi tagihan kartu atm-ku yang sudah membengkak kan?!”

“Shim Miyoung!” Eunji berteriak keras, mungkin dia merasa kesal dengan tanggapan Miyoung tadi. Tapi sungguh, Miyoung benar-benar tak peduli dengan hal itu. “Kau tak harus mengatakan hal menjijikan seperti itu… Lagipula, maksud ucapanku tadi adalah kau masih bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dari itu.” Nada suaranya menurun kembali.

“Aku sudah mencobanya, Tapi aku tidak mendapatkannya.”

“Oh.. aku tahu! Bagaimana jika aku meminta Wooyoung Oppa untuk membiarkanmu bekerja dikantornya? Kurasa… Dia tidak akan masalah dengan hal itu, bagaimana?” Tawarnya kemudian.

Mendengar nama lelaki itu, Seketika itu juga sekujur tubuh Miyoung menegang. Kedua bola matanya melebar dan ia tak dapat mengelak perasaan sakit dan menyesakkan dalam hatinya. Ia tahu jika Eunji tak mengetahui hubungannya dengan Wooyoung dulu, tapi ia tak berharap jika Eunji akan menyebut nama lelaki itu di hadapannya. Itu benar-benar terasa sangat menyakitkan baginya jika harus mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.

“Miyoung-ah…” Eunji memanggilnya dari seberang sana.

Miyoung segera tersadar, Ia berdehem pelan berusaha menyembunyikan perasaannya itu saat sadar jika ia masih terhubung dengan Eunji. Lalu ia pun segera berkata, “Kurasa kau tidak perlu melakukan hal itu, Eunji-ya. Lagipula… Aku sudah merasa cukup senang dengan pekerjaan ini. Jadi, Kuharap kau bisa memakluminya…”

“Benarkah?”

“Yah…” Miyoung berucap yakin. “Baiklah kalau begitu, Kurasa obrolan kita cukup berakhir di sini. Aku harus segera bersiap-siap ke café atau aku akan di pecat jika datang terlambat.” Ujarnya kemudian.

“Hm, Baiklah…”

Flip!

Miyoung segera membanting ponselnya ke samping sofanya dan merebahkan kepalanya di atas sandaran sofa, Kedua matanya menutup rapat dan secara perlahan-lahan ia menghembuskan nafasnya. “Mungkin aku harus mulai menjaga jarak dengannya sekarang…” Pikirnya.

***

Cling!

Suara bel yang saling berdentingan saat pintu terbuka itu, menandakan jika seorang pelanggan datang. Dan nampaklah seorang lelaki tampan dengan mengenakan sebuah kemeja biru muda dengan garis-garis putih serta celana jeans berwarna hitam.

Ia berjalan mendekati konter di mana Miyoung tengah berdiri menunduk di sana. Tak sadar dengan kedatangannya itu, Seulas senyuman lembut khasnya terukir jelas di wajah tampannya itu dan meskipun para gadis yang tengah berada di dalam café itu mengamatinya dengan tatapan memuja, Lelaki itu seakan tak peduli. Pikirannya terlalu fokus pada sosok Miyoung yang masih belum menyadarinya.

“Selamat datang di tempat kami… Adakah yang ingin anda pesan?” Miyoung melontarkan pertanyaan yang sama untuk yang ke-sekian kalinya saat lelaki itu telah berdiri tepat di depan konternya, Wajahnya masih menunduk tak peduli dengan siapa yang datang.

“Berikan aku segelas Rendezvous Coffe.” Sahut sang lelaki masih dengan tersenyum.

“Baiklah, Tunggu sebentar…” Seraya mengangguk singkat padanya, Miyoung segera bergerak menyiapkan pesanan lelaki itu. Sedangkan lelaki itu nampak terus memandangi gerak-geriknya, Memperhatikan setiap detail yang dilakukan Miyoung saat ini.

Tak butuh waktu lama untuk Miyoung menyiapkan pesanannya, Ia menyodorkan pesanan lelaki itu ke hadapannya sambil menyebutkan nominal harganya dan lagi-lagi Miyoung tak kunjung mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah lelaki itu. Bahkan di saat sang lelaki memberikan kartu atm untuk membayarnya, Miyoung tetap acuh terhadapnya.

“Terima kasih untuk berkunjung di tempat ini. Silahkan datang kembali lain waktu…” Seakan sebuah komputer yang telah di set, Miyoung hanya mengatakan kata-kata yang telah terbiasa ia katakan pada setiap pelanggan yang datang.

Setelah menggapai pesanannya, Lelaki itu hanya tetap terdiam berdiri di hadapan konter. Ia tak beranjak sedikitpun dan kedua matanya menatap geli pada Miyoung, Seolah dirinya tengah menunggu Miyoung mendongakkan kepalanya dan menyadari kehadirannya.

Merasa sedikit terganggu dengan hal itu, Miyoung lantas mendongakkan kepalanya dan di saat itulah matanya menangkap sosok lelaki yang tengah tersenyum lembut padanya itu. Kedua bola mata Miyoung membulat, Memorinya akan lelaki itu masih tersimpan jelas dalam otaknya.

“Hai… Kita bertemu lagi, Nona.” Sapa lelaki itu kemudian, Ia mengulurkan tangannya tepat di hadapan Miyoung. “Dua minggu yang lalu kita bertemu dengan cara yang tidak mengenakan. Jadi, Kuharap kau tidak membenciku… Kau masih mengingatku kan?” Ujarnya bersemangat.

Miyoung hanya terdiam, Namun beberapa saat berucap singkat. “Lee Donghae-ssi…”

Senyuman lelaki tampan bernama Lee Donghae itu semakin melebar, Sorotan matanya jelas memperlihatkan kegembiraan. “Cukup memanggilku dengan Donghae tanpa perlu embel-embel seperti itu…” Ujarnya kemudian. “Dan maukah kau menyambut tanganku serta menyebutkan siapa namamu nona? Kurasa… Tanganku sudah terlalu lama menunggu…” Lanjutnya.

Sadar dengan tangan Donghae yang masih terulur di hadapannya, Miyoung menatapnya sejenak dan kemudian membalas jabatan tangan Donghae dengan singkat lalu menarik kembali tangannya.

“Shim Miyoung…” Sahutnya menyebutkan namanya. “Dan jika kau tidak keberatan… Bisakah kau menyingkir dari tempatmu sekarang? Ada pelanggan lain yang harus aku layani sekarang…” Ia menggedikkan dagunya, Memberi isyarat pada Donghae jika ada dua orang gadis yang tengah berdiri di belakangnya, Menunggu giliran untuk memesan.

Donghae tersenyum geli dan kemudian mengangguk singkat, “Baiklah…” Ujarnya kemudian berjalan ke pinggir, Memberikan anggukan ramah pada kedua gadis itu dan tentu saja membuat kedua gadis itu tersipu malu sedangkan Miyoung hanya memutar kedua bola matanya, malas.

Setelah itu, Donghae kembali meliriknya dan untuk kedua kalinya ia memperhatikan setiap gerak-gerik yang di lakukan Miyoung. Bahkan sampai gadis itu memberikan pesanan kedua gadis itu, Donghae masih tetap terdiam di tempatnya, Memperhatikan Miyoung dengan lekat.

“Pada jam berapa waktu kerjamu berakhir?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Donghae. Sepertinya ia cukup tertarik pada Miyoung. Namun, Miyoung tak kunjung menjawabnya juga, “Hey… Miyoung-ssi, Aku bertanya padamu.” Desaknya.

“Sekitar 2 jam lagi.” Jawab Miyoung tanpa sedikitpun menoleh padanya.

Donghae melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya lalu mengangguk singkat, “Berarti jam 8 malam. Hm, Kalau begitu bagaimana jika kita makan malam bersama?” Tawarnya tanpa sungkan.

Mendengar ajakan Donghae, Miyoung mengernyitkan keningnya, Sekilas ia menoleh pada lelaki itu -yang tak henti-hentinya memperlihatkan senyuman ramahnya-. Dan sedetik kemudian, Miyoung menggelengkan kepalanya singkat, “Aku lelah… Aku ingin segera pulang.”

“Kalau begitu aku akan mengantarkanmu pulang, Bagaimana? Kau mau kan?”

“Tidak… Terima kasih untuk kebaikanmu, Donghae -ssi. Tapi kurasa aku akan lebih nyaman untuk naik bus saja…” Sahut Miyoung dengan sopan, Berusaha untuk tetap terlihat tenang.

“Oh ayolah…” Suara Donghae terdengar seperti sebuah bujukan, Namun lagi-lagi Miyoung tak menghiraukannya dan memilih untuk diam. “Kuartikan itu sebagai jawaban ‘yah’!” Putusnya kemudian, Terdengar sedikit memaksa memang tapi Donghae tak peduli akan hal itu.

Miyoung segera mendongakkan wajahnya, Berniat menolak ucapan Donghae.

“Aku akan menunggumu sampai kau selesai bekerja. Dan aku tidak ingin mendengar satu kata penolakan pun darimu… Atau aku akan semakin memaksamu, Miyoung-ssi!” Ancaman Donghae memang tak terlihat serius, Namun ntah kenapa Miyoung seakan tak mampu membantah hal itu dan memilih untuk mengangguk pada akhirnya.

“Baiklah…”

Donghae menyeringai lebar, Puas dengan jawaban Miyoung. “Seharusnya kau mengatakan hal itu sejak awal! Nah, sekarang aku akan menunggumu…” Senangnya seraya berjalan mencari salah satu meja kosong untuk menunggu Miyoung selesai berkerja.

Sedangkan Miyoung hanya mengamati lelaki itu dengan malas, Ia tahu seharusnya ia tidak boleh dengan mudahnya menerima ajakan lelaki itu. Tapi mau bagaimana lagi? Jika lelaki itu terus memaksanya ia pun tak ada pilihan lain.

“Sial!” Umpatnya dalam hati.

***

Miyoung telah mengganti seragam kerjanya dengan sebuah kaus polos berwarna putih dan celana jeans sepanjang lutut yang berwarna biru. Tak lupa sebuah jaket rajutan berbahan kain wol berwarna biru langit, Setelah itu ia mengikat rambutnya dengan asal ke atas dan setelah itu ia mengganti high heels yang sejak tadi di kenakannya dengan sebuah sepatu sport berwarna putih.

Ia meraih tas selendangnya dan mengecek beberapa barangnya, Setelah semuanya selesai, Ia pun segera menutup lokernya kemudian bergegas keluar melalui pintu belakang, Ia berniat untuk menghindari Donghae dengan cara pulang secara diam-diam melalui pintu belakang.

Dan setelah di rasanya aman, Ia pun segera memasang earphone di kedua telinganya kemudian menekan sebuah tombol play di layar I-podnya.

Sret!

“Woah, Lagu jazz…”

Miyoung terkejut saat tiba-tiba saja seseorang menarik headsetnya dari arah belakang, Ia pun segera menoleh ke belakang dan mendapati Donghae dengan sepasang earphonenya yang telah terpasang di telinga lelaki itu.

“Kau?”

Donghae tersenyum padanya namun sesaat kemudian ia memasang raut kesalnya yang jelas di tunjukkan untuk Miyoung. “Bukankah sudah kukatakan jika kau harus pulang bersamaku? Aku sudah menunggumu selama dua jam, Miyoung-ssi…” Ujarnya kemudian.

Gadis itu memutar kedua bola matanya, malas. “Aku tidak menyuruhmu untuk menungguku.” Ujarnya dengan tatapan datar.

“Tapi aku ingin menunggumu dan mengantarmu pulang. Apakah itu masih kurang jelas untukmu, Miyoung-ssi?” Sahut Donghae dengan kalem.

“Terserahmu sajalah!” Sahut Miyoung dengan nada malas, ia segera merebut earphone miliknya dari Donghae, kemudian berjalan mendahului Donghae.

Donghae hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Miyoung. Ia lantas berjalan cepat menyamai langkah Miyoung dan dengan mudahnya ia dapat berjalan di samping gadis itu.

To Be Continued…

Note : Halloooooooooooooooo, MY LOVELY READERS… *cium+hugatu2* Hahahaha, Saya akhirnya bisa juga publish chapter 1nya dari FF ini setelah sekian lama publish teasernya ampe ada yang nagih2 FF aneh bin gaje ini… Muehehehehehehe

Sebenarnya, agak gak pede publish chapter.1nya… tapi yaaah… bermodal kata ‘NEKAT’ akhirnya saya publish dah nieh FF… Hahahahahaha

Semoga yang membaca terhibur… dan semoga saja kalian suka dengan alur ceritanya yang ntah kenapa bisa muncul dalam imajinasi saya ini… LOL XDD Baiklah, silahkan membacaaaaaaa…….. ^_________^

Iklan

56 thoughts on “If This Was A Movie (Chapter.1)

    • ugh,ugh!!

      patah hati kuuuuu jdnyaaaa….uwouwooooo…/nyinden/

      ya ampun,miris amat naseb miyoung yah,msa iya sahabatnya gk tau klu wooyoung itu pacarnya miyoung???? yg bner aja,sahabat mcm apa itu?? /gebrak meja/

      sok mw nyuruh wooyoung bwt ksh pekerjaan bwt miyoung pla,isshh..najis..

      hh..emak miyoung jg gk bsa jga prasaan anaknya yg lg susah ya,cih…taunya cm bsa memojokkan anak.

      kan klu dipikir2 sapa juga yg mw kyk kondisi miyoung.kan semua jg pengen yg indah2, ya kan…ckckck…parah tu..

      ahh..tinggal si ikan nih,gmana sikapnya ntr stelah mngenal miyong,lbh parah kah?? ato lbh baikkah??

      hmm..

  1. Ini bagus tau,,eonn…
    Ak juga nungguin,,,
    apa yang dimimpi miyoung itu sosok donghae yya*kyyaaa,,lompat galah*
    sosweet…perjuangan donghae gimana yya
    update kilat yy eonn biar gg terlalu kangen

  2. ehh ,, jd si eunji g tau klo wooyoung prnh pcrn sm miyoung ??
    yg d mimpi miyoung itu syp yaa ??
    d tunggu kelanjutannya oenni ,, fighting 😀

    • Yupz…
      Dia gak tau kalo Wooyoung itu ternyata mantannya Miyoung gitu…

      Ayo tebaaaaaak…
      Siapa yang kira2 yang ada d mimpi Miyoung???
      ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ

  3. huwaaaaaaaaaaaaaaa
    FF bru lagi….
    bgus Eonn….
    .
    mlang bnget sich nsib Miyoung. udh d ptusin, di pecat, eh trus d tnggal nkah. plang k rmah Eomma nya mlah d ceramahin..
    Komplit dech…..
    Tp gpp dech Miyoung ptus ma Wooyoung. soalnya mreka nggk ada pntes”nya. nggk serasi.. pkoknya nggak gimana gtu…
    hehehehehehe
    .
    Spa tug Eonn yg da d mmpi Miyoung? Donghae oppa kah??
    .
    d sni Donghae Oppa mksa bnget yak ma Miyoung. bgus tuh…
    .
    Eonni skrang bwt FF Couplenya Miyoung sring ma Donghae Oppa.
    tumben bnget nggk pke Mimi Eonn…
    .
    OK dach, d tnggu yach Eonn lnjutn ff nya
    klau bsa cpet sich….
    Anyyeong!!!!!!

    • ​​‎​:D=))º°˚˚°º≈нåнåн庰˚˚°º≈º=)):D
      Yah, maklum ajalah…
      Akhir2 seorang Lee Donghae benar-benar mengisi pkiran Onn nieh…
      Jadi yang ada couple-annya ama ci Donghae mulu dah…
      =Dkώk=˚°kώk==Dώkψkkώk˚°

      Oke deh…

  4. hiks..hiks… kasihan banget nasibnya miyoung.. udah patah hati, dipecat pula.. moga aja setelah ada donghae oppa hidupnya jadi bahagia..
    ditunggu lanjutannya ya thor… fighting 🙂

  5. Yakkk castnx miyoung n’ donghae, knp g zhoumi yaa? Kangen jg ma couple itu *lol
    aigo apes bngt seh nasibnx miyoung tp kyknx nasib miyoung bakal berputar secara ada malaikat penolong sprt donghae, oke next part d tunggu 😉

  6. Huwaaaaaaaaaaaa~
    Ikan termanis di dunia akhirnya muncul lewat FF If This Was a Movie. FF ini udah lama aku tunggu cOz main castnya adalah menantu idaman eomma. Wkwkwkwkw….

    Siapa tuh cwo dimimpi Miyoung? Pasti DongHae, ga mungkin yg lain.*jawabSendiri* Suka deh ma Dong Hae disini, kesannya muaniiiiiiiiiiiiiis banget ni cwo. *CubitPipiDonghae

    Ditunggu next chapternya^^

  7. Woaaah new ff again ^&^
    Miyoung-hae, the lovely couple hihihi
    Ksian miyoung, udh ditinggal kawin pacar sm shbat sndri, dipecat, diomelin pula sm eommanya, how poor she is *pukpuk*
    Untung ada bang hae yg bersedia mengulurkan tangan dgn sukarela*?* walopun ditanggapi dgn dingin sm miyoung
    Huaaaa sukaa sm jlan critanya, it will be interesting, I think hihihi
    Ditunggu next chapter 😀

  8. kereeeeen ff nya apalagi cast nya si abang ikan,anyway masih gak ngerti sama wooyoung ygmutusin miyoung tiba-tiba thor? but over all aku suka ^^ ditunggu kelanjutannya 😀

  9. Kasian bgt miyoung udh d’ptsin sm wooyoung trz d’pcat pula.klo kt pepatah sdh jth trtimpa tangga..;(
    tp q msh pnsaran eonni,koq bs wooyoung’y nikah sm sahabat’y miyoung???apa pz pcaran sms miyoung dy slingkh sm sahabat’y???atw jstru miyoung yg d’jdiin slngkuhan sms wooyoung???
    aigoooo..bang ikan usaha’y d’acungi jempol dech wlwpn ksan’y maksa y..kekekekeke..tp lanjutkan bang siaapa tw aja miyoung’y bs luluh?????kekekekeke..ok d’tnggu part slnjt’y eonn..

  10. Miyoung aku prihatin padamu~
    udah diputusin, dipecat lagi. Trus mantan nikahin sahabat. Huh lengkap sudah penderitaanmu.

    Next..next.. Go..go.. Paiting.. XD

  11. eonni!!!
    Akhirnya ff ini d publish juga..
    Gpp eonni, hidup emang harus nekat..nekatin aja terus kalau mau update ff..
    Serius, eonni, aku suka banget ff ini..
    Lanjutannya jangan lama2..
    Makin cinta deh sama lee donghae 😀
    semangat^^

  12. Kyaaa eoni ff ПЎɑ̈ cast ПЎɑ̈ donghae ! Seneng seneng ! ϑɪ̣̝̇ tunggu ah kelanjutan ПЎɑ̈ . •’⌣’• |h̲̅|ę|h̲̅|ę|h̲̅|ę •’⌣’•

  13. Aaarrggghh .. Gila *gigit sendal*
    Wuooo .. Hae-ya itu pacar aku satu”nya, ckck dia disini genit. Wkwk

    Typo selalu ada yak eon, haha gpp penting enak di baca, bahasa dan kata” yg simple, juga huruf besar dan huruf kecilnya ada yang salah tuh. Hehe

    Ini kritikan ku. Aku nunggu” FF di blog ini akhirnya datang juga! Okelah keep writing eon!!! (y)

    Di tunggu part selanjutnya 😉

  14. aku pikir ini sekuelnya yg donghae pura2 hilang ingatan itu *lupa judul* trnyata bukan ya tp ini ff yg kayanya bakal sad ending itu

    miyoung kok kasian bgt ya
    ini sih namanya bukan cma jatuh ketimpa tangga tangga tp ketimpa gajah sama gorila juga hihi

    kayanya donghae-miyoung jodoh deh, udah berkali2 ketemu tuh mrkanya
    semoga bisa bersatu ya

  15. Ya ampun, miris bgd si jd miyoung.
    Udah putus, dipecat, shbtx nikah ma mantanx, eh eommax nyeramahin mulu dtambah kesiram kopi panas lagi.. Aigooo.
    Donghae nan pabo-ya, geregetan pas d awal2, ngeliat miyoung tp ga inget prnah ngeliat dmana. Ckckck.
    Ngebayangin hae pas d cafe kyakx haex cute bgd deh.
    Aaaah, ceritax so sweet. Next jo..

  16. eon donghaenya badboy dong kkkkk *digetok

    aigooooo wooyoung satu kata buatmu KEJAM ckckck ituu sumpah pas di pesta itu watados banget serasa ga punya salah apa” sama miyoung heuhhh

    tapi untungnya ada donghae, aaaaaaaaaaaaaaa hae kau naksir ya sama miyoung cieeeeeeeeeeee LANJUTKAN

    kerennn eon next part ASAP yo 😀

  17. T.T
    Nta, knp aq baca ini jd ikutan nyesek yah -___-
    Miyoung, u are strong enough! u can face i!! Fighting!!!

    Dtunggu chapter 2nya…
    Mau tau apa lagi yang bakal Miyoung hadapin selanjutnya ^.^

    PS : Karakter Miyoung di sini mirip seseorang…

  18. Diputusin trus dipecat, bagaikan jatuh tertimpa tangga pula. Miris banget kisahnya miyoung. Emm ngomong2 aku penasaran sama yang nolong miyoung pas miyoung nangis di tempat gelap itu.
    Eonni, ada typo, gabanyak koq cuma ada beberapa aja. Maaf eon bukan ngebash atau apa, tapi aku hanya mengoreksi saja 🙂

  19. Diputusin trus dipecat, bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga pula. Miris banget kisahnya miyoung. Emm ngomong2 aku penasaran sama yang nolong miyoung pas miyoung nangis di tempat gelap itu.
    Eonni, ada typo, gabanyak koq cuma ada beberapa aja. Maaf eon bukan ngebash atau apa, tapi aku hanya mengoreksi saja 🙂

  20. Nasib miyoung miris bgt sich,hbis di putusin eh di pecat juga. .
    Hae bru ktmu miyoung beberapa kali udh ngejar” miyoung aj. . .
    Tp perasaan knpa tiap” ff eonni hae slalu yng ngjar miyoung y?ap cma perasaan q aj y? ?

  21. duh,donghae mulai beraksi #uhukk
    kasihan bgt miyoung,udh diputusin lacar,dipecat,ditinggal nikah,diomelin eomma’nya,trs skrg didatengi donghae #plakk

    ditunggu kelanjutan’nya eonni^^
    fighting!

  22. Curiga..
    Jangan2 putusnya hubungan dan pemecatan Miyoung ada hubungannya sama Donghae right? #plakk

    Okee mari dilanjut…
    Fighting..

  23. wkwkwkwkwkwk
    sial banget miyoung eonni diputusin pacarnya dan di pecat dari kantornya dihari yang sama…
    sabar ya eonni…
    lanjutkan cerita ya eonni… 🙂

  24. Next thor…
    Aku masih penasaran nih…
    Sama couple ini tentunya di FF ini… Aku baru baca nih hehe 🙂
    oh ya, part 5 oh! My boss! Kapan nih di publish. Aq udah gk sabar
    jangan lama2 ne…

  25. ohya lam knl dulu thor.. heemmm lumayan ffnya suka ceritanya… so sweet tu abang ikan.. rela nugguin si miyoung… sayang miyoungnya cuek gtu… 🙂

    ditunggu deh next part…

  26. Sempat kaget lihat judulnya sempat bc ff.jdl sama di blog lain, tp penulis, cast and author nya beda dn plot ceritanya jg beda, br part 1, smga bs cpt bc part berikutnya

  27. Hae oppa lope lope deh….

    Kasian sm nasib Miyoung ketidakberuntungan yg dtg bertubi-tubi, tp aku suka sm karakter Hae oppa ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ 😀

    Btw part 1 ini sudah lama di publish tp part 2 kok blm muncul-muncul ya, mudah-mudahan author ga lupa ya sm ff yg 1 ini

    Keep writing ^^

  28. Annyeong aku reader baru disini :D, salam kenal ya buat author nya, gk sengaja search FF donghae di mbah google alhasil aku terdampar di blog nya author hehehehehe :D, FF nya keren author itu kayanya donghae nya udah tertarik ya sama miyoung ?? Ahh sweet bangett sihh, semoga jadi cinta deh mereka berdua, biar miyoung nya bahagia habis tertimpa musibah diputusin sama wooyoung trus ditinggal nikah, udah itu nikahnya sama sahabat nya sendiri lagi, belum lagi dia di pecat di kantornya, ahh kasiann bangett sihh,, makin penasaran gimana kelanjutannya ?? Next chap nya ditunggu 😀
    dan 1 lagi boleh dong aku baca FF lainnya yg cast nya donghae di blog ini ??? Boleh kan ?? #ngarep

  29. wew..
    Miyoung yg tabah ya…
    Pasti ad pengganti buat qm.
    Tuh ad donghae yg udh mulai tertarik ma qm.
    Memg sakit di awal, tp jgn terus menerus dirasa, malah ga da gunanya..
    So tataplah ke depan ya miyoung..

    Nice ff thor, suka ma karakter miyoung dsni. Cool, jutek, cuek, bahkan terkesan dingin dan acuh..
    Keep writing ya thor. Next chap dtggu ya.. Fighting..!?!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s